Memanasnya Tensi Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak

CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 06:52 WIB
Memanasnya Tensi Timur Tengah Dongkrak Harga Minyak Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menanjak lebih dari satu persen pada perdagangan Senin (27/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan ditopang oleh tensi di Timur Tengah, kebijakan pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan berlanjutnya gangguan pasokan minyak mentah Rusia akibat kontaminasi yang ditemukan pada April 2019 lalu.

Dilansir dari Reuters, Selasa (28/5), harga minyak mentah berjangka Brent menguat US$1,42 atau 2,07 persen menjadi US$70,11 per barel. Pekan lalu, Brent merosot sekitar 4,5 persen.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,59 atau 1 persen menjadi US$59,24 per barel pada pukul 13.52 EDT.


Libur nasional di AS dan Inggris membatasi partisipasi pelaku di pasar sehingga volume perdagangan rendah.


Memanasnya tensi AS dengan Iran mengerek prospek gangguan pasokan dan menopang harga. Pada Jumat (24/5) lalu, AS mengumumkan bakal mengerahkan lebih banyak pasukan di Timur Tengah.

Kendati demikian, dampak dari memanasnya tensi tersebut terbatas.

"Pergerakan (AS) ini meningkatkan tensi di kawasan (Timur Tengah) lebih jauh, namun dengan pasar AS dan Inggris tutup hari ini dan kebanyakan tensi geopolitik kemungkinan telah diperhitungkan pasar, dampaknya terhadap harga minyak mentah tetap terbatas," ujar JBC Energy dalam catatannya.

Sementara itu, dua sumber Reuters pada Senin (27/5) menyatakan produksi minyak Rusia terus melandai bulan ini. Selain itu, ekspor minyak mentahnya juga tertekan setelah pengiriman ke Eropa melalui pipa Druzhba telah terkontaminasi bulan lalu.


Merosotnya produksi Rusia akibat kontaminasi telah membantu memperketat pasar dan mendongkrak harga.

Selain itu, harga juga mendapatkan sokongan dari kebijakan pemangkasan produksi yang masih dilakukan OPEC. Pengurangan produksi, baik secara sukarela oleh OPEC dan sekutunya maupun secara terpaksa akibat pengenaan sanksi AS telah membuat harga minyak acuan global ini menguat sekitar 29 persen sejak awal tahun.

Melihat sinyal OPEC tidak akan tergesa-gesa melonggarkan kebijakan pemangkasan produksinya, Menteri Perminyakan Kuwait Khaled al-Fadel menyatakan pasar diperkirakan akan seimbang.

"Kami (OPEC) masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan. Saya meyakini pasar diperkirakan akan seimbang selama paruh kedua 2019, hingga akhir tahun," ujar Al-Fadhel kepada Reuters.

Struktur harga Brent masih dalam kondisi backwardation di mana harga Brent untuk pengiriman dalam waktu dekat lebih tinggi dibandingkan Brent yang baru akan dikirim pada masa mendatang. Hal itu mengindikasikan ketatnya keseimbangan pasokan dan permintaan.
[Gambas:Video CNN]
Kendati demikian, kekhawatiran terhadap permintaan minyak mentah akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global membatasi penguatan harga minyak.

"Faktor utama yang membatasi pasar untuk menguat lebih tinggi akibat pemberitaan geopolitik adalah kekhawatiran terhadap perekonomian global," ujar Analis Petromatrix Olivier Jakob.

Indikasi perlambatan ekonomi global terlihat saat data profit perusahaan industri China pada April 2019 yang dirilis pada Senin (27/5) kemarin merosot. Kemudian, data yang dirilis pada Jumat (24/5) lalu menunjukkan kebijakan baru AS membuat barang modal turun lebih besar dibandingkan perkiraan pada bulan lalu. (sfr/agi)