Pelemahan Harga Minyak Angkat Rupiah ke Rp14.269 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 31/05/2019 16:48 WIB
Pelemahan Harga Minyak Angkat Rupiah ke Rp14.269 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada pada posisi Rp14.269 per dolar AS pada perdagangan Jumat (31/5) ini. Rupiah menguat 0,98 persen jika dibandingkan Rabu (29/5). 

Sementara kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia (Jisdor BI) menempatkan rupiah di posisi Rp14.385 per dolar AS. Posisi ini menguat 32 poin dari Rabu (29/5) di Rp14.417 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah kompak menguat dengan mayoritas mata uang negara lain. Yen Jepang menguat 0,74 persen, baht Thailand 0,45 persen, dolar Singapura 0,13 persen, dan peso Filipina 0,06 persen.


Lalu, rupee India menguat 0,06 persen, dolar Hong Kong 0,05 persen, dan ringgit Malaysia 0,04 persen. Meski begitu, yuan China stagnan. Sedangkan won Korea Selatan melemah 0,15 persen.


Begitu pula dengan mata uang di negara maju yang mayoritas menguat. Frans Swiss 0,3 persen, euro 0,18 persen, dolar Australia 0,11 persen, dan poundsterling Inggris 0,01 persen. Hanya rubel Rusia yang melemah 0,54 persen dan dolar Kanada minus 0,27 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah terjadi karena pengaruh kondisi ekonomi global maupun domestik. Dari global, rupiah berhasil menguat karena indeks dolar AS justru tengah terjerembab lantaran mendapat sentimen penurunan harga minyak mentah dunia.

Hal itu terjadi karena US Energy Information Administration memperkirakan pasokan minyak mentah AS turun sekitar 300 ribu barel menjadi 476,5 juta barel. Bahkan, konsensus pasar yang dihimpun Reuters menunjukkan hingga minus 900 ribu barel.

Menurut Ibrahim, penurunan harga sekaligus proyeksi pasokan minyak mentah terjadi karena perang dagang AS-China. Ketegangan hubungan kedua negara mempengaruhi kelancaran rantai pasok global, arus perdagangan, dan investasi.

[Gambas:Video CNN]

Hal tersebut kemudian menurunkan laju pertumbuhan ekonomi sekaligus permintaan energi. "Namun, bagi rupiah, penurunan harga minyak adalah sebuah berkah. Jika harga minyak turun, maka biaya impor komoditas ini jadi lebih murah, rupiah pun punya fondasi yang lebih kuat," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.

Selain pergerakan harga minyak mentah dunia, Ibrahim melihat sentimen global yang turut melemahkan dolar AS adalah rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Chiina Xi Jinping di forum G20 di Osaka, Jepang pada 28--29 Juni mendatang. Sebab, belum ada tanda-tanda perbaikan hubungan kedua negara jelang pertemuan tersebut.

Sementara dari dalam negeri, ia melihat pergerakan harga sejumlah kebutuhan masyarakat yang cukup terjaga jelang Lebaran berhasil menstabilkan tingkat inflasi. Konsensus pasar memperkirakan inflasi hanya sekitar 0,53 persen pada Mei 2019. Padahal, ada momen Ramadan hingga Lebaran pada bulan ini.

"Inflasi rendah merupakan pencapaian yang positif karena menjadi pertanda permintaan yang tinggi bisa dipenuhi. Di sisi lain, dengan inflasi rendah, maka nilai mata uang tidak terlalu tergerus," terangnya.


Sementara untuk pekan depan, Ibrahim memperkirakan rupiah masih mampu melanjutkan penguatan. Prediksinya, rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.180-14.315 per dolar AS.

Berbeda, Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi justru melihat penguatan rupiah didominasi oleh sentimen dari dalam negeri, yaitu berupa intervensi dari bank sentral nasional. Sebab, Indonesia dirundung capital outflow alias keluarnya aliran modal asing dalam beberapa waktu terakhir.

Hal tersebut, sambungnya, membuat bank sentral nasional mengeluarkan kebijakan intervensi di pasar uang dengan membeli surat utang yang dilepas oleh asing. Tujuannya, agar likuiditas di pasar uang dan kurs rupiah terjaga.

"Ada intervensi dari BI karena penguatannya tiba-tiba. Padahal, kondisi global lagi muncul sentimen safe haven," jelasnya.

Untuk pekan depan, Dini memperkirakan rupiah juga masih punya ruang untuk melanjutkan penguatan. Ia memproyeksi rupiah bisa bergerak di rentang Rp14.180-14.330 per dolar AS.

Menurutnya, sentimen yang akan mewarnai pergerakan rupiah pada pekan depan, yaitu rilis data NFP AS yang mengindikasikan ada perlambatan ekonomi di Negeri Paman Sam. Bila data tersebut tak sesuai ekspektasi pasar, maka pemangkasan tingkat suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve bukan tidak mungkin terjadi.


(uli/agt)