Dampak Ramadan dan Lebaran, Inflasi Mei 0,68 Persen

CNN Indonesia | Senin, 10/06/2019 11:33 WIB
Dampak Ramadan dan Lebaran, Inflasi Mei 0,68 Persen Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi sebesar 0,68 persen secara bulanan pada Mei 2019. Secara tahun berjalan, inflasi tercatat 1,48 persen dan secara tahunan sebesar 3,32 persen.

"Dengan memperhatikan target inflasi pemerintah 3,5 persen bisa saya simpulkan inflasi Mei terkendali," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (10/6).

Suhariyanto mengungkapkan laju inflasi Mei 2019 lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2018 yang hanya tercatat 0,37 persen. Pasalnya, efek kenaikan harga periode ramadan dan lebaran pada tahun ini terpusat di bulan lalu.

Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu di mana pengaruh ramadan dan lebaran lebih banyak terjadi pada Juni 2018 dengan inflasi sebesar 0,59 persen, terendah dalam 8 periode ramadan-lebaran terakhir.


"Inflasi Juni 2019 diperkirakan akan lebih rendah (dibanding Mei 2019),ujarnya.

Suhariyanto merinci inflasi tertinggi bulan lalu terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 2,02 persen secara bulanan dengan andil 0,43 persen.

"Komoditas yang menyumbangkan inflasi ialah cabe merah dengan kontribusi 0,1 persen, kenaikan daging ayam ras 0,05 persen, dan ini bisa dimaklumi karena masuk ramadan dan jelang lebaran. Kemudian bawang putih 0,05 persen, ikan segar 0,04 persen, dan selebihnya kenaikan sayuran yang sebenarnya kenaikannya kecil-kecil," terang dia.

Kendati demikian, sejumlah bahan makanan masih ada yang mengalami deflasi, misalnya bawang merah - 0,04 persen karena terjadi panen raya di Brebes dan Bima. Harga beras juga turun 0,02 persen.


Selanjutnya, kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan inflasi sebesar 0,54 persen dengan andil 0,1 persen. Pemicunya adalah tarif angkutan antar kota yang memberikan andil 0,04 persen. Lalu, tiket pesawat dan kereta api masing-masing memberikan andil pada inflasi sebesar 0,02 persen.

Berikutnya, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengekor dengan inflasi sebesar 0,56 persen dengan andil sebesar 0,1 persen.

Kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar inflasi sebesar 0,06 persen dengan andil 0,02 persen.

Inflasi kelompok sandang dan kesehatan masing-masing sebesar 0,45 persen dan persen 0,18 persen. Masing-masing andilnya 0,02 persen dan 0,01 persen.
[Gambas:Video CNN]
Terakhir, untuk kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar mengalami inflasi sebesar 0,03 persen dengan andil nol persen.

Berdasarkan komponen penyumbang, tercatat komponen harga pangan bergejolak (volatile foods) mengalami inflasi tertinggi sebesar 2,18 persen.

Lalu, komponen tingkat harga yang diatur pemerintah (administered price) inflasi 0,48 persen, dan komponen inflasi inti (core inflation) inflasi 0,27 persen.

Suhariyanto menilai daya beli masyarakat masih cukup baik mengingat secara tahunan inflasi inti masih di atas 3 persen, yaitu 3,12 persen.

Lebih lanjut, berdasarkan wilayah, dari 82 kota IHK, inflasi terjadi di 81 kota dengan inflasi tertinggi di Tual sebesar 2,91 persen dan inflasi terendah di Kediri sebesar 0,05 persen. Sedangkan 1 kota lainnya mengalami deflasi yaitu Merauke dengan minus 0,49 persen.


(sfr/bir)