Donald Trump Ancam Meksiko soal Tarif, Harga Minyak Jatuh

CNN Indonesia | Sabtu, 01/06/2019 09:02 WIB
Donald Trump Ancam Meksiko soal Tarif, Harga Minyak Jatuh Ilustrasi minyak mentah. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak jatuh pada penutupan perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (1/6) pagi, di tengah ancaman tarif terbaru Pemerintah AS terhadap Meksiko. Ancaman tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap perdagangan energi, serta prospek ekonomi global.

Harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman Juli turun 3,09 dolar AS atau 5,5 persen menjadi 53,50 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. WTI mencapai harga terendahnya di posisi 53,41 dolar AS per barel, terlemah sejak 14 Februari 2019.

Sementara, patokan internasional, minyak mentah Brent turun 2,38 dolar AS atau 3,6 persen menjadi 64,49 dolar AS per barel di London ICE Future Exchange. Brent menyentuh sesi terendahnya di posisi 64,37 dolar AS per barel, terendah sejak 8 Maret 2019.

Minyak AS melorot nyaris 8,75 persen untuk pekan ini dan harga minyak Brent turun lebih dari 6 persen. Sementara, sepanjang Mei, Brent membukukan penurunan 11 persen dan WTI jatuh 16 persen. Kerugian ini merupakan kerugian bulanan yang terbesar sejak November lalu.


Presiden AS Donald Trump menyebut akan mengenakan tarif lima persen terhadap semua barang impor Meksiko mulai 10 Juni. Trump juga bermaksud menekan Meksiko untuk menyetop imigran tak berdokumen melintasi perbatasan AS.

Langkah Trump ini membuat banyak orang khawatir, mengingat Meksiko adalah salah satu mitra dagang terbesar AS dan pemasok utama minyak mentah.

Bahkan, analis menilai langkah tersebut dapat menekan perdagangan energi lintas batas yang telah lama menguntungkan, terutama mengenai kilang AS yang menggunakan minyak Meksiko.
[Gambas:Video CNN]
Analis di PVM Oil Associates menuturkan meningkatnya ketegangan perdagangan AS dan Meksiko juga meningkatkan kekhawatiran investor akan perlambatan ekonomi global, yang dapat melemahkan permintaan energi.

Di pasar ekuitas AS, sektor energi S&P 500 turun 1,62 persen, sekaligus menempatkannya pada kelompok sektor berkinerja terburuk.


(bir)