Perang Dagang Memanas, Harga Minyak Dunia Melemah

CNN Indonesia | Selasa, 04/06/2019 07:57 WIB
Perang Dagang Memanas, Harga Minyak Dunia Melemah Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak melemah pada perdagangan Senin (3/6) waktu Amerika Serikat (AS) akibat perang dagang antara AS dengan Meksiko dan China yang meningkatkan kekhawatiran melemahnya permintaan minta global.

Minyak mentah berjangka Brent ditutup pada US$ 61,28 per barel, turun 1,2 persen. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berakhir 0,5 persen lebih rendah menjadi US$ 53,25 per barel.

Meksiko mengatakan akan menolak gagasan AS untuk menerima pencari suaka Amerika Tengah jika diajukan pada pembicaraan minggu ini dengan administrasi Presiden AS Donald Trump yang mengancam tarif atas masalah imigrasi.


Kemungkinan tarif AS kepada Meksiko yang dikenakan di tengah perang dagang berlarut-larut antara AS dan Cina yang telah melukai harga minyak.


"Fokus telah bergeser dari penawaran ke sisi permintaan karena perjanjian perdagangan AS-Cina telah terbukti sulit dipahami dan karena kekhawatiran mengenai dampak melemahkan tarif terhadap pertumbuhan ekonomi global kini telah bergeser ke Meksiko," kata Jim Ritterbusch dari Ritterbusch and Associates dalam sebuah catatan, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (4/6).

Analis juga menyebut pelemahan pada bursa saham Wall Street, yang kadang mengikuti harga minyak mentah, memperburuk penurunan harga minyak di masa depan.

Komentar dari Arab Saudi, pemimpin de facto OPEC menunjukkan bahwa Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya akan terus bekerja menuju stabilitas harga minyak pada paruh kedua tahun ini, membantu membatasi penurunan harga.

"Kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar setelah Juni. Bagi saya, itu berarti menarik inventaris dari levelnya yang sekarang tinggi, "Menteri Energi Khalid al-Falih dikutip mengatakan oleh surat kabar Arab News milik Saudi.


Harga minyak berjangka Brent telah turun hampir 20 persen dari harga tertingginya pada 2018. Pasokan global yang semakin ketat menyusul pembatasan produksi oleh OPEC dan Rusia, serta pengurangan ekspor Iran dan Venezuela karena sanksi AS menjadi penyebabnya.

Menurut analis, aksi jual dalam minyak mentah baru-baru ini kemungkinan akan memperkuat niat Arab Saudi untuk mempertahankan pengurangan produksi.

"Aksi jual ini harus mendapatkan perhatian mereka lagi dan menghalangi mereka untuk meningkatkan produksi," kata John Kilduff, seorang analis di Again Capital LLC.

Sumber Reuters menyebut Arab Saudi menghasilkan 9,65 juta barel minyak per hari (bph) pada Mei. Lebih rendah dari target produksinya di bawah pakta yang dipimpin OPEC adalah 10,3 juta barel per hari.


(Reuters/agi)