Aprindo Sebut Penjualan Ritel Lebaran Tak Sesuai Harapan

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 17:37 WIB
Aprindo Sebut Penjualan Ritel Lebaran Tak Sesuai Harapan Ilustrasi ritel. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkapkan hasil penjualan sektor ritel selama Ramadan-Lebaran tahun ini mengecewakan. Khususnya, penjualan produk non makanan dan minuman, seperti pakaian dan perlengkapan rumah tangga.

Wakil Ketua Aprindo Tutum Rahanta mengatakan rata-rata pertumbuhan penjualan ritel makanan sebenarnya masih mencapai kisaran 10 persen. Namun, rata-rata pertumbuhan ritel non makanan dan minuman tidak mengalami pertumbuhan.

"Beberapa masih ada yang positif, tapi yang turun, minus, lebih banyak. Jadi average (rata-rata) tidak tumbuh, padahal Lebaran adalah momen puncak bagi kami," ujar Tutum di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (13/6).


Bahkan, menurut Tutum, hasil penjualan ritel non makanan dan minuman jauh lebih rendah dari satu sampai dua tahun lalu yang juga tertekan isu pelemahan daya beli masyarakat. Walhasil, target pertumbuhan ritel yang semula diperkirakan bisa mencapai kisaran 8-10 persen pada tahun ini berpeluang kandas.


"Soalnya 20-30 persen kontribusi pendapatan ada di saat Lebaran, makanya kami berusaha keras saat momen kemarin, tapi ternyata susah," katanya.

Menurut Tutum, penurunan penjualan ritel non makanan dan minuman tak hanya tergerus lesunya kemampuan membeli masyarakat. Namun, persaingan dengan penjualan dalam jaringan (online) yang kian meningkat.

Sayangnya, kinerja penjualan online tak bisa dibeberkan dengan angka pasti karena masing-masing pemain biasanya tidak membuka kinerja mereka. "Tapi kalau diurutkan, pertama karena daya beli masyarakat yang turun. Kedua, persaingan dengan online," katanya.

Dengan kondisi seperti ini, Tutum meminta pemerintah memperhatikan kondisi industri ritel dalam negeri. Sebab, pertumbuhan sektor ini juga menjadi salah satu tolak ukur kontribusi tinggi dari indikator konsumsi masyarakat yang menopang pertumbuhan ekonomi.

Misalnya, dengan memberikan akses pasar ke pusat perbelanjaan strategis, pemerataan upah tenaga kerja, hingga mengurangi impor barang jadi. "Kami umumnya brand lokal butuh dukungan. Kalau bisa tak hanya meningkatkan ekspor, tapi juga cegah impor," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(uli/agt)