Perang Dagang, China Siapkan 'Amunisi' Dongkrak Ekonomi

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 22:09 WIB
Perang Dagang, China Siapkan 'Amunisi' Dongkrak Ekonomi Ilustrasi ekonomi China. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China mengaku bakal mengeluarkan lebih banyak kebijakan untuk mendorong ekonomi guna menghadapi tekanan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Wakil Perdana Menteri China Liu He mengatakan pihaknya memiliki banyak kebijakan dan mampu menghadapi berbagai tantangan perekonomian. Pernyataan Liu merespons rilis data China kemarin yang menunjukkan pertumbuhan kredit pada Mei lebih lemah dari ekspektasi.

Aktivitas manufaktur China juga menurun pada Mei. Demikian dengan impor yang turun paling rendah dalam tiga tahun terakhir.


"Saat ini, kami memang memiliki beberapa tekanan eksternal, tetapi tekanan-tekanan eksternal itu akan membantu kami meningkatkan kemandirian kami dalam inovasi dan mempercepat laju pengembangan berkecepatan tinggi," ujar Liu, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (13/6).


Meski sejumlah kebijakan telah digelontorkan pemerintah China sejak akhir tahun lalu, perekonomian China sulit terangkat kembali. Ketegangan perdagangan antara AS dan China yang meningkat beberapa bulan terakhir mendorong kekhawatiran perang dagang dapat memicu resesi global.

Liu pun menekankan pihaknya akan menggelar langkah-langkah memperkuat ekspektasi pasar bahwa pelonggaran moneter lebih dibutuhkan.

Gubernur Bank Sentral China Yi Gang menyebut bahwa terdapat ruang untuk menyesuaikan kebijakan jika perang dagang memburuk.


Sebelumnya, pada Kamis, China Daily mengutip ekonomi yang mengatakan China kemungkinan akan menyesuaikan likuiditas bank guna mendorong kredit dalam beberapa minggu ke depan, antara lain dengan memangkas suku bunga dan mengubah persyaratan rasio cadangan. Hal tersebut dilakukan untuk menghadapi risiko penurunan ekonomi jika ketegangan perdagangan meningkat.

Ketegangan perdagangan antara AS dan China meningkat seiring aksi kedua negara yang saling mengenakan tarif.

Saat ini, China merupakan pemegang terbesar utang pemerintah AS mencapai US$1,12 triliun pada surat utangnya. Kondisi ini memicu isu bahwa Beijing dapat melepas surat utang negara itu dan mengganggu perekonomian AS.

[Gambas:Video CNN] (Reuters/agi)