Daftar Pemain Industri Biodiesel Tambah Panjang

CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 08:46 WIB
Daftar Pemain Industri Biodiesel Tambah Panjang Ilustrasi. (REUTERS/Beawiharta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) MP Tumanggor mengatakan dua pabrik biodiesel saat ini sedang dibangun. Pabrik dengan kapasitas total sebanyak satu juta kiloliter (kl) akan mendongkrak kapasitas industri biodiesel, yaitu dari 12 juta kl menjadi 13 juta kl.

"Saya dengan ada yang membangun pabrik (biodiesel) di Kalimantan Timur," ujarnya di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kamis (13/6).

Ia melanjutkan pabrik tersebut tengah dibangun oleh pemain baru. Namun, ia enggan membocorkan pelaku baru tersebut. Industri biodiesel memang mendapatkan angin segar dari kebijakan mandatori campuran biodisel pada minyak Solar oleh pemerintah.

Sejak September 2018 lalu, pemerintah resmi memperluas program mandatori B20 ke sektor non subsidi, sehingga penyerapan biodiesel tahun lalu mencapai 3,8 juta kl.


Tahun ini , konsumsi biodiesel domestik diperkirakan meningkat sekitar 50 persen menjadi 6,2 juta kl, di mana hingga April telah terealisasi sekitar 2,1 juta kl. Dengan mandatori B30, konsumsi biodiesel domestik tahun depan diperkirakan tembus 8 juta hingga 9 juta kl.

Produsen biodiesel juga mendapatkan kepastian penggantian selisih harga oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP-KS) apabila harga jual FAME berada di atas harga Solar.

Hal ini diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit sebagaimana telah direvisi dalam Prespres Nomor 66 Tahun 2018.

Sebagai catatan, insentif sawit atau dana pembiayaan biodiesel digunakan untuk menutup selisih kurang antara Harga Indeks Pasar (HIP) minyak solar dengan HIP biodiesel. Tahun ini, alokasi insentif biodiesel mencapai Rp7 triliun.
[Gambas:Video CNN]
Meski demikian, Tumanggor mengingatkan program mandatori biodiesel memberikan dampak yang luas kepada perekonomian.

Pertama, Indonesia menjalan komitmen Perjanjian Iklim Paris COP 21 yang ingin menurunkan emisi karbon. Kedua, menjaga defisit perdagangan sehingga mengurangi penggunaan devisa.

Ketiga, menjaga stabilitas harga sawit. Keempat, pasokan sawit dari petani bisa terserap industri. Terakhir, lingkungan terjaga karena penggunaan energi hijau.


(sfr/bir)