OJK Ramal Kredit Tumbuh 12-14 Persen pada 2020

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 21:29 WIB
OJK Ramal Kredit Tumbuh 12-14 Persen pada 2020 Ilustrasi OJK. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2020 akan berkisar 12 persen-14 persen. Proyeksi tersebut tak berbeda dengan perkiraan pertumbuhan kredit tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengungkapkan perlambatan ekonomi global dan perang dagang menjadi tantangan bagi sektor keuangan tahun depan, baik perbankan maupun pasar modal.

Maka itu, perlu ada strategi khusus di sektor jasa keuangan. Misalnya, mendorong industrialisasi untuk mendongkrak ekspor dan menciptakan efek berganda pada perekonomian.


"Industrialisasi ini harus memberikan keunggulan daya saing bagi pengusaha sehingga bisa bersaing di internasional," ujar Wimboh dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Gedung DPR, Kamis (13/6).


Untuk mendukung industrialisasi, ke depan, pembiayaan bukan lagi dari perbankan ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) namun lebih banyak ke swasta.

Pasalnya, sebut Wimboh, Batas Maksimal Pemberian Kredit (BMPK) BUMN sudah cukup tinggi. Sebagai catatan, sesuai ketentuan, BMPK untuk perusahaan pelat merah adalah sebesar 30 persen dari modal. Sementara itu, BMPK untuk korporasi swasta adalah 20 persen.

"Inilah waktunya sektor swasta harus di garis depan. Sektor swasta harus diberikan arahan dan insentif agar bisa masuk ke berbagai sektor," ujarnya.

Sektor-sektor unggulan yang bisa dimasuki swasta antara lain perikanan, pariwisata, pertanian, dan pertambangan. Nantinya, perusahaan swasta besar harus bisa menggandeng usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sehingga tercipta efek berganda.


Pertumbuhan kredit tahun depan akan ditopang oleh penyerapan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 10 hingga 12 persen. Kemudian, pertumbuhan kredit akan membantu meningkatkan aset bank di kisaran 13 - 15 persen.

Hingga April 2019, pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,05 persen secara tahunan meski pertumbuhan dana masyarakat hanya 6,63 persen.

Dari sisi penggunaan, Wimboh mencermati adanya perubahan akselerasi pertumbuhan kredit. Saat ini, pertumbuhan kredit produktif lebih tinggi dibandingkan konsumtif selama 2 tahun terakhir.

"Pertumbuhan kredit perbankan di luar kebiasaannya. Sekarang ini kredit investasi tumbuh 14,34 persen dan juga kredit modal kerja tumbuh 10,48 persen yoy dan kredit konsumsi tumbuh 9 persen yang biasanya kalau dilihat dalam sejarahnya konsumsinya yang lebih tinggi," ujarnya.


Risiko kredit tahun ini juga relatif terkendali dengan tren menurun di mana rasio kredit bermasalah (NPL) April 2019 sebesar 2,56 persen dan rasio pembiayaan bermasalah (NPF) sebesar 2,76 persen.

Kondisi likuiditas juga mulai melonggar dengan rasio kredit terhadap simpanan (LDR) sebesar 93,58 persen, melonggar dari sebelumnya yang sempat menyentuh 94 persen. Permodalan bank juga cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan kredit dengan CAR sebesar 23,47 persen.

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menilai target pertumbuhan kredit tahun depan cukup konservatif. Tanpa ada perubahan dari sisi produktivitas dan pola investasi yang berarti, pertumbuhan kredit tahun depan tak beda jauh dengan tahun ini. Adapun penggeraknya kemungkinan lebih besar dari pertumbuhan kredit korporasi dan investasi.

"Kelihatan memang 3 tahun terakhir pertumbuhan kredit tidak jauh dari Produk Domestik Bruto Nominal," ujar David.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, pengamat perbankan Paul Sutaryono menilai target penyaluran kredit OJK relatif wajar. Menurut Paul, selepas pemilihan umum (Pemilu) memperoleh hasil definitif, sektor riil tidak lagi wait and see yang akan mendorong laju permintaan kredit.

Kredit produktif, lanjut Paul, berpeluang melaju semakin kencang karena kegiatan usaha terbantu oleh membaiknya infrastruktur.

"Sektor riil makin memperluas bisnis mereka dalam kondisi politik yang lebih stabil," ujarnya. (sfr/lav)