ANALISIS

Spekulasi Penurunan Suku Bunga Beri Angin pada Saham Properti

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 09:15 WIB
Spekulasi Penurunan Suku Bunga Beri Angin pada Saham Properti Ilustrasi perdagangan saham. CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah bank sentral negara telah mengubah arah suku bunga acuan mereka. Perubahan antara lain dilakukan  bank sentral India (Reserve Bank of India/RBI) dan Australia (Reserve Bank of Australia (RBA) yang menurunkan suku bunga acuannya masing-masing sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen dan 1,25 persen. 

Perubahan dilakukan setelah sejumlah lembaga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global mereka. Penurunan salah satu dilakukan Bank Dunia yang merevisi turun pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen pada Juni 2019.

Di tengah perubahan tersebut, p
elaku pasar berspekulasi The Fed, bank sentral Amerika Serikat (AS) akan turut menurunkan suku bunga acuan mereka.


Selain global, pelemahan laju ekonomi diramal juga akan menghantui AS. Pelemahan paling tidak sudah terlihat dari i
nflasi Negeri Paman Sam yang hanya tumbuh 0,1 persen pada Mei 2019, melambat dari posisi April 2019 yang mencapai 0,3 persen.

Pelemahan juga tercermin dari data pertumbuhan pekerjaan nonpertanian AS (non-farm payroll) yang hanya meningkat 75 ribu, lebih rendah dibandingkan dengan prediksi ekonom yang mencapai 185 ribu.


Di tengah penurunan suku bunga dari berbagai bank sentral dan spekulasi turunnya suku bunga acuan The Fed, sejumlah pihak pun memprediksi Bank Indonesia (BI) ikut-ikutan.  Mereka diramalkan akan menurunkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini.

Analis Anugerah Sekuritas Indonesia Bertoni Rio mengatakan pelaku pasar bisa memanfaatkan sentimen spekulasi penurunan suku bunga acuan tertsebut untuk melahap saham sektor properti. Jika BI menurunkan suku bunga acuannya, maka perbankan juga bakal menurunkan suku bunga kredit, khususnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

"Spekulasi suku bunga BI turun diharapkan membuat suku bunga pinjaman turun sehingga mendorong kredit rumah dan pinjaman meningkat. Ini menjadi angin segar untuk saham properti," papar Bertoni kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/6).

Pelaku pasar bisa melirik dua saham properti Lippo Grup, yakni PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK). Bertoni mengatakan valuasi saham keduanya masih murah dibandingkan dengan saham properti lainnya.

[Gambas:Video CNN]

"Lippo Karawaci dan Lippo Cikarang ada sentimen Meikarta yang belum jelas sehingga investor kemarin-kemarin enggan lirik dua saham tersebut," terang dia.

Pekan ini, sambung Bertoni, pelaku pasar bisa memanfaatkan harga saham Lippo Karawaci dan Lippo Cikarang yang masih murah untuk melakukan akumulasi beli. Bertoni memprediksi harga kedua saham itu menguat sepanjang pekan.

Akhir pekan kemarin, saham Lippo Karawaci stagnan di level Rp308 per saham. Sementara, Lippo Cikarang amblas 3,13 persen ke level Rp1.705 per saham.

"Untuk spekulasi beli boleh saja menanti capital gain sesaat saja, fundamental perusahaan tidak masalah," ucapnya.

Namun, kinerja keuangan laporan dua perusahaan itu tak bisa dibilang cukup baik pada kuartal I 2019 lalu bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.


Lippo Karawaci misalnya, pendapatan perusahaan memang naik dari Rp2,5 triliun menjadi Rp2,8 triliun. Hanya saja, laba bersihnya anjlok dari Rp132,76 miliar menjadi Rp50,01 miliar.

Sementara, keuangan Lippo Cikarang terbilang lebih positif. Hal itu terlihat dari pendapatan perusahaan yang naik dari Rp319,63 miliar menjadi Rp399,35 miliar, lalu laba bersih pun naik dari Rp80,79 miliar menjadi Rp151,17 miliar.

Lebih lanjut ia mengatakan spekulasi penurunan suku bunga acuan tak hanya berdampak positif untuk sektor properti, tapi juga saham di sektor semen. Sebab, permintaan semen otomatis meningkat jika bisnis properti menggeliat.

"Untuk semen bisa perhatikan saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP)," kata Bertoni.


Kebetulan, kedua saham tersebut terkoreksi pada Jumat (14/6) kemarin. Saham Semen Indonesia melemah 0,22 persen ke level Rp11.450 per saham dan Indocement Tunggal Prakarsa turun 0,24 persen menjadi Rp20.500 per saham.

Saham Bank Berpotensi Beri Keuntungan

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan berpendapat spekulasi penurunan suku bunga acuan juga akan membuat saham perbankan kembali menguat pekan ini.

Sebelumnya, saham perbankan berkali-kali mendapatkan sentimen positif, misalnya dari keputusan lembaga pemeringkat utang S&P yang mengerek peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan prospek stabil.

"Jadi pelaku pasar masih bisa lihat saham-saham perbankan, fokusnya yang nilai kapitalisasi pasarnya besar," ujar Alfred.


Jika BI benar-benar menurunkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat, maka penyaluran kredit perbankan berpeluang semakin masif. Ujung-ujungnya, pendapatan dan laba bersih emiten perbankan juga lebih meningkat.

Ia merekomendasikan saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). Alfred menyebut valuasi kedua saham itu lebih murah dibandingkan dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Valuasi saham ini bisa dilihat dari price earning to ratio (PER) masing-masing saham. Mengutip RTI Infokom, PER saham Bank Mandiri akhir pekan lalu di angka 12,62 kali, BNI 9,73 kali, BRI 15,96 kali, BCA 29,5 kali.

Ia menambahkan bahwa beberapa waktu terakhir saham bank bergerak di zona merah. Kondisi ini jelas menguntungkan bagi pelaku pasar, karena bisa membeli di harga murah.


"Dua sampai tiga hari ini kan saham bank terkoreksi sehat jadi momen bagus untuk trading saham bank," tutur Alfred.

Bila dirinci, akhir pekan lalu saham Bank Mandiri bergerak stagnan di level Rp7.825 per saham, saham BNI melemah 1,73 persen ke level Rp8.500 per saham, saham BCA turun 0,09 persen menjadi Rp29 ribu per saham, dan BRI menguat 0,71 persen ke level Rp4.230 per saham. (agt)