Taksi Express Tiga Kali Gagal Gelar Rapat Pemegang Saham

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 18:05 WIB
Taksi Express Tiga Kali Gagal Gelar Rapat Pemegang Saham Ilustrasi Taksi Express. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Express Transindo Utama Tbk (Taksi Express) kembali gagal melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Ini merupakan yang ketiga kalinya perusahaan batal menggelar RUPS setelah rapat sebelumnya direncanakan dilaksanakan pada 8 Februari dan 18 Februari 2019 lalu.

Bedanya, kali ini rapat yang akan digelar adalah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Sementara, dua rapat sebelumnya Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB).

Berdasarkan jadwal, RUPST perusahaan seharusnya berlangsung di Jakarta Ballroom Hotel Ibis Harmoni, Jakarta Pusat hari ini dan dimulai pada pukul 14.00 WIB. Namun, pemegang saham sudah mulai keluar sebelum pukul 15.00 WIB.


Salah satu pemegang saham mengatakan jumlah peserta rapat tidak kuorum. Dengan demikian, RUPST tak bisa dilanjutkan.


"Tadi di dalam ruangan hanya sebentar, manajemen memperkenalkan siapa saja dari mereka yang hadir. Setelah itu dibilang kalau jumlah pemegang saham tak mencukupi untuk dilanjutkan rapat," ungkap pemegang saham yang enggan disebutkan namanya itu kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/6).

CNNIndonesia.com berusaha mengkonfirmasi kepada Direktur Utama Express Transindo Utama Johannes B.E. Triatmojo dan Direktur Megawati Affan, tapi keduanya tak merespons.

Mengutip situs Indo Premier Sekuritas, Express Transindo Utama memiliki empat mata acara yang akan dibahas dalam RUPST.
Pertama, persetujuan dan pengesahan laporan tahunan untuk buku yang berakhir per 31 Desember 2018. Kedua, Persetujuan penetapan laba bersih perusahaan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember.


Ketiga, persetujuan penunjukkan Kantor Akuntan Publik (KAP) yang akan mengaudit laporan keuangan tahunan perusahaan. Keempat, persetujuan penetapan gaji dan tunjangan lainnya untuk anggota direksi dan dewan komisaris perusahaan.

Dalam rapat sebelumnya, ada pembahasan terkait permintaan restu untuk melaksanakan Penambahan Modal Tanpa Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) dengan menerbitkan saham baru kepada pemegang obligasi perusahaan.

Sesuai keputusan Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) 2014 silam, utang obligasi perusahaan yang nilainya mencapai Rp1 triliun akan ditukarkan dengan saham baru dengan skema PMTHMETD dengan nilai nominal sebanyak-banyaknya Rp100 per saham. (aud/agi)


BACA JUGA