BEI Berpotensi Delisting Saham BORN dan ATPK

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 23:12 WIB
BEI Berpotensi Delisting Saham BORN dan ATPK Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) berpeluang menghapus pencatatan (delistingsaham PT Borneo Lumbung Energi Tbk (BORN) dan PT Bara Jaya Internasional Tbk (ATPK) tahun ini jika tak menunjukkan perbaikan bisnis. Kedua saham itu disebut-sebut bermasalah dari keberlangsungan usaha.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan Bara Jaya Internasional belum memiliki rencana untuk memperbaiki kondisi perusahaan ke depan. Sementara, Borneo Lumbung Energi memiliki masalah hukum.

"Jadi saat dengar pendapat untuk Bara Jaya kami tanya mereka belum ada rencana, tapi kalau Borneo ada sedikit permasalahan di perizinan di kegiatan usahanya," tutur Nyoman, Senin (17/6).

BEI pun, kata Nyoman, tak hanya sekali melakukan rapat dengar pendapat dengan manajemen Bara Jaya Internasional dan Borneo Lumbung Energi. Namun, keduanya belum menunjukkan perubahan yang berarti.



"Tapi bukan berarti tidak ada atensi, Borneo lebih ada atensinya hanya saja kan ada permasalahan hukum, tapi memang ujungnya sama dua-duanya tidak jalan juga," jelas dia.

Merujuk data BEI, saham Borneo Lumbung Energi telah dihentikan perdagangannya sementara (disuspensi) sejak 1 Agustus 2016 hingga saat ini. Sementara, Bara Jaya Internasional disuspensi sejak 2 Juli 2018 dan belum dibuka sampai sekarang.

Diketahui, berdasarkan aturan yang berlaku BEI berhak melakukan delisting terhadap saham yang sudah disuspensi selama lebih dari 24 bulan. Namun, BEI biasanya akan memanggil manajemen perusahaan untuk rapat dengar pendapat mengenai rencana perbaikan ke depan.

"Nah setelah 24 bulan ini kami tunggu, kami validasi setiap rencananya dan setelah itu kami minta timeline. Kalau tidak dipenuhi ya sudah (delisting)," ucap Nyoman.


Selanjutnya, Nyoman mengatakan BEI resmi mendepak satu emiten per hari ini, yaitu PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP). Hal ini dilakukan setelah Bursa melakukan suspensi saham tersebut selama 44 bulan.

Kegiatan utama perusahaan tersebut bergerak di sektor batu bara. Hanya saja, sejak April 2015 lalu perusahaan menunda proses produksi batu bara hingga sekarang.
[Gambas:Video CNN]
Nyoman menyebut sudah meminta Sekawan Intipratama memulai produksi batu bara kembali. Namun, permintaan itu tak juga dilakukan oleh perusahaan.

"Sampai dengan saat ini belum terealisasi sehubungan dengan kendala-kendala yang dihadapi perusahaan," pungkasnya. (aud/agi)