Perang Dagang, Pengusaha AS Hadapi Dilema Pindah dari China

CNN Indonesia | Selasa, 18/06/2019 11:10 WIB
Perang Dagang, Pengusaha AS Hadapi Dilema Pindah dari China Ilustrasi ekspor-impor. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengusaha Amerika Serikat (AS) menghadapi dilema yang cukup berat dalam menghadapi perang dagang yang berkecamuk antara negara mereka dengan China.

Dilema tersebut mereka sampaikan dalam dengar pendapat yang diselenggarakan oleh pemerintah AS dengan dunia usaha terkait rencana pemberlakuan tarif 25 persen atas impor senilai US$300 miliar asal China yang akan diberlakukan Presiden Donald Trump.

Dalam dengar pendapat tersebut, para pengusaha mengatakan kepada pejabat dari kantor Perwakilan Dagang AS, Departemen Perdagangan, Departemen Luar Negeri, dan lembaga federal lainnya, jika tarif tinggi diberlakukan, itu semua akan mengakibatkan peningkatan beban kepada mereka.


Trump dan anggota kabinetnya, kata mereka juga sudah mengakui kenaikan tarif juga akan mengakibatkan industri manufaktur hengkang dari China.  Masalahnya kata pengusaha tersebut, keluar dari China dan memindahkan basis produksi ke Vietnam atau negara lain tidak cukup layak bagi mereka.


Pengusaha tersebut memandang bahwa sampai saat ini infrastruktur dan kemampuan tenaga kerja di Vietnam dan negara lainnya masih belum mendukung mereka. Presiden Regalo International LLC Mark Flannery mengatakan harga untuk mengalihkan produksi ke Vietnam dan negara lain 50% lebih tinggi dibanding ketika produksi dilakukan di China.

Kalau produksi dipindahkan ke Meksiko, biaya yang dikeluarkan di atas 50 persen lebih tinggi dibanding di China.

"Saat ini tidak ada negara yang memproduksi di luar China," kata Flannery seperti dikutip dari Reuters, Selasa (18/6).

Kepala Eksekutif Cole Productions, pemasar sepatu dan pakaian jadi, Marc Schneider mengatakan kalau jadi diberlakukan, tarif 25 persen akan menghapus keuntungan perusahaan.

"Untuk menyiasati itu, kami akan menurunkan kualitas alas kaki, menaikkan harga dan tidak menghasilkan apa-apa dengan memindahkannya ke negara lain," kata Schneider.

[Gambas:Video CNN]

Kecamuk perang dagang antara AS dengan China yang sudah berlangsung sejak pertengahan tahun lalu sampai saat ini belum menunjukkan tanda akan berakhir.

Bahkan, ketegangan dagang belakangan ini semakin menjadi setelah Presiden Trump awal Mei lalu memberlakukan kenaikan tarif pada produk China senilai US$ 200 miliar menjadi 25 persen dan mengancam untuk mengenakan tarif tambahan kepada produk China senilai US$300 miliar.

Presiden Trump menyatakan siap memberlakukan tarif baru pada produk dari China jika tak dapat membuat kemajuan dalam pembicaraan perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Osaka, Jepang Juni ini.

Tak mau kalah, China menyatakan akan merespons 'serangan' AS tersebut. "China tidak ingin berperang, tetapi kami tidak takut berperang. Jika Amerika Serikat hanya ingin meningkatkan friksi perdagangan, kami akan dengan tegas menanggapi dan berjuang sampai akhir," ujar Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang seperti dikutip dari Reuters,Selasa (11/6).


(Reuters/agt)