AS-China Negosiasi Dagang Lagi, Harga Minyak Dunia Menguat

CNN Indonesia | Rabu, 19/06/2019 07:14 WIB
AS-China Negosiasi Dagang Lagi, Harga Minyak Dunia Menguat Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak menguat lebih dari US$1 persen pada perdagangan Selasa (18/6), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan terjadi menyusul beredarnya kabar China dan AS akan kembali melakukan negosiasi dagang sebelum pertemuan G20 bulan ini.

Kabar pertemuan tersebut menimbulkan harapan kedua negara bakal mengatasi sengketa dagang yang mempengaruhi ekonomi global.

Dilansir dari Reuters, Rabu (19/8), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,97 atau 3,8 persen menjadi US$53,9 per barel. Penguatan juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka Brent sebesar US$1,2 atau 2 persen menjadi US$62,14 per barel.


"Melakukan pembicaraan melalui telepon yang sangat baik dengan Presiden China Xi. Kami akan menggelar pertemuan tambahan pekan depan pada pertemuan G20 di Jepang. Masing-masing tim kami akan memulai pembahasan sebelum pertemuan kami," ujar President AS Donald Trump melalui cuitan dalam akun Twitter resminya @realdonaldtrump pekan ini.


China, yang sebelumnya menolak untuk berkomentar terkait pertemuan kedua pimpinan, memberikan konfirmasi atas rencana pertemuan tersebut.

"Pembicaraan AS-China tidak ada kemajuan dan kerusakan terhadap perekonomian global terus bertambah setiap hari," ujar Partner Again Capital LLC John Kilduff di New York.

Memanasnya tensi di Timur Tengah usai serangan kepada kapal tanker pekan lalu juga menopang kenaikan harga minyak.
Kenaikan tensi disebabkan oleh rencana AS untuk mengirim lebih banyak pasukan militernya ke Timur Tengah.

Kekhawatiran terjadinya konfrontasi antara AS dan Iran muncul pascaserangan tersebut. AS telah menuding Iran sebagai biang keladi serangan itu. Namun, Iran telah membantah keterlibatannya.


Trump menyatakan ia telah bersiap melakukan aksi militer demi menghentikan Iran untuk memiliki bom nuklir. Kendati demikian, ia masih membuka opsi menjatuhkan sanksi melalui aksi militer untuk melindungi pasokan minyak Negara Teluk.

Pada Senin (17/6) lalu, Iran telah menyatakan akan melanggar kesepakatan internasional terkait persedian uranium kadar rendah dalam 10 hari. Iran juga menyatakan negara-negara Eropa masih memiliki waktu untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir yang dimiliki sebelumnya.

Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan awal pekan ini mengumumkan pelepasan sebanyak 1.000 orang lebih pasukan militer AS ke Timur Tengah bertujuan untuk pertahananan dengan pertimbangan ancamn dari Iran.

Pelaku pasar juga masih menanti pertemuan antara Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, untuk memutuskan apakah akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan pasokan yang akan berakhir pada bulan ini.


Sebagai catatan, kelompok yang dikenal sebagai OPEC+ itu telah memangkas produksinya sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) sejak awal tahun untuk mengerek harga minyak.

Sumber Reuters dari OPEC menyatakan negara anggota OPEC dan non-OPEC tengah membahas kemungkinan waktu pertemuan pada 10-12 Juli 2019 yang diusulkan Iran.

Pada Selasa (18/6) kemarin, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan masih terlalu dini untuk mengambil keputusan terkait masa depan kesepakatan tersebut karena ketidakpastian pasar.

Harga minyak telah merosot lebih dari 15 persen sejak menyentuh level tertingginya pada April lalu. Penurunan itu sebagian disebabkan oleh kekhawatiran terkait perang dagang AS-China dan data ekonomi yang mengecewakan.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, tingginya stok minyak mentah AS yang sebagian dipicu oleh pertumbuhan produksi domestik juga turut membebani pasar minyak. Berdasarkan data pemerintah AS pekan lalu, stok minyak komersial Negeri Paman Sam berada di level tertinggi sejak Juli 2017 dan 8 persen di atas rata-rata lima tahunan untuk periode saat ini.

Lebih lanjut, Institut Perminyakan Amerika menyatakan stok minyak mentah AS turun sebesar 812 ribu bph menjadi 482 juta pada pekan lalu. Angka resmi dari pemerintah AS baru akan dirilis Rabu (19/6) ini, waktu setempat. (sfr/lav)