Industri Batu Bara RI Berpotensi Cuan dari Perang Dagang

CNN Indonesia | Rabu, 19/06/2019 06:42 WIB
Industri Batu Bara RI Berpotensi Cuan dari Perang Dagang Ilustrasi batu bara. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan batu bara Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) optimis perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China justru dapat mendatangkan keuntungan bagi industri batu bara. Pasalnya, perang dagang membuat China mengurangi impor batu bara dari AS akibat pengenaan tarif sebesar 20 persen.

"Kondisi ini (perang dagang) menguntungkan produsen batu bara dari Indonesia," ujar Direktur BUMI Yingbin Ian He di Jakarta, Selasa (18/6).

Ia menjelaskan bahwa secara geografis, posisi Indonesia sebenarnya diuntungkan mengingat lokasi Indonesia relatif dekat dengan China dibandingkan AS atau Kanada.

Saat ini, menurut dia, industri batu bara di China sebagian besar berada di bagian utara China. Padahal, permintaan batu bara sebagian besar berada di wilayah pesisir China.


"Indonesia memiliki keuntungan untuk pengiriman melalui laut. (Batu bara) Asia Tenggara lebih kompetitif dibandingkan batu bara AS, Kanada, dan Australia," jelas dia.

Oleh karena itu, He meyakini permintaan batu bara Indonesia ke China masih tetap akan stabil. Bahkan, He tak akan kaget jika permintaan batu bara Indonesia ke China meningkat secara tak terduga mengingat karakteristik pembeli China yang lebih menyenangi kontrak jangka pendek dibandingkan kontrak jangka panjang.

Kendati demikian, He tak memungkiri dampak perang dagang AS-China juga bisa berpengaruh negatif. Hal ini lantaran perang dagan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global yang akan menekan permintaan batu bara.

"Tapi Kita harus melihat dari dua arah," ujarnya.


Penjualan Batu Bara BUMI

Sementara itu, BUMI menargetkan penjualan batu bara pada paruh pertama tahun ini mencapai 42 juta ton atau hanya naik 3,75 persen dibandingkan periode tahun lalu. Dengan demikian, perusahaan harus menjual 45 juta hingga 48 juta ton pada semester II 2019 untuk mencapai target penjualan tahun ini yang mencapai 88 juta - 90 juta ton.

"Pada kuartal I kami telah menjual hampir 20 juta ton dan kami memperkirakan menjual 22 juta ton pada kuartal II 2019," ujar Direktur dan Sekretaris Korporat BUMI Dileep Srivastava.

Menurut dia, Penjualan utamanya ditopang oleh produksi batu bara dari anak usahanya di antaranya PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang memasok sekitar 60 - 62 juta ton per tahun dan PT Arutmin yang memasok sekitar 20 juta ton per tahun.

Srivastava mengungkapkan perusahaan mengatur produksinya agar tidak berlebih. Jika pasokan berlebih, harga batu bara akan turun. Sebagai catatan, perusahaan mengasumsikan harga jual batu bara untuk tahun ini ada di kisaran US$55 hingga US$56 per ton atau menurun dari posisi akhir tahun lalu di level US$59 per ton.



Senada dengan He, Srivastava tak melihat dampak dari perang dagang AS-China pada tahun ini. Pasalnya, dari target penjualan tahun ini, sekitar 85 persennya telah terkontrak.

"Kami tidak melihat risiko yang tinggi untuk mencapainya (target penjualan)," ujarnya.

Perusahaan juga berupaya untuk mengembangkan pasar baru, tidak hanya bergantung pada China dan India. Pasar yang tengah dijajaki, yakni ke Hong Kong, Jepang, Korea, dan Taiwan. Adapun saat ini, porsi penjualan batu bara ke China sekitar 11 hingga 12 persen dan India 15 persen.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, perusahaan juga mengalokasikan 25 hingga 26 persen produksinya untuk memenuhi kewajiban pemenuhan kebutuhan batu bara domestik untuk ketenagalistrikan.

Dengan meningkatnya volume penjualan, Srivastava optimistis penerimaan kotor perusahaan tahun ini bisa menembus sebesar US$5 miliar atau meningkat dari raupan tahun lalu yang sebesar US$4,9 miliar. (sfr/agi)