Bandara Kertajati, 'Periuk Nasi' Baru Warga Majalengka

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 27/06/2019 11:52 WIB
Bandara Kertajati, 'Periuk Nasi' Baru Warga Majalengka Ilustrasi Bandara Kertajati. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Majalengka, CNN Indonesia -- Robby (27), petugas kebersihan Bandara International Jawa Barat, Kertajati, Jawa Barat, melepas penat di salah satu sisi gerbang keberangkatan. Maklum, sudah seharian ia bekerja membersihkan seluruh sisi Bandara yang belum genap setahun terbangun itu.

Ketika Tim CNNIndonesia.com mengunjungi Bandara Kertajati pada Rabu(26/6), waktu sudah menunjukkan pukul 16.15 WIB. Saat itu, Robby memilih melanjutkan bekerja selepas beristirahat, dan baru akan pulang menjelang Azan Magrib.

"Masih ada beberapa sisi yang perlu dibersihkan. Ya kalau sudah beres baru bisa pulang," jelas Robby kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/6).


Robby sudah menjalani pekerjaan sebagai petugas kebersihan selama hampir setahun, atau tepat sejak Bandara Kertajati beroperasi. Pria yang merupakan warga asli Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka itu seumur hidupnya bermukim di tempat yang sama. Tak heran ia mengaku sangat mencintai tanah kelahirannya.

Bukti cinta itu ia salurkan melalui pekerjaannya. Sebagai petugas kebersihan, ia mengaku selalu bekerja dengan niat 100 persen. Memastikan setiap sudut Bandara Kertajati luput dari debu dan kotoran lainnya.


Robby mengungkapkan suasana yang bersih bisa membuat pengunjung merasa nyaman kala bertandang ke Bandara Kertajati. Jika sudah begitu, ia yakin reputasi Majalengka akan menjadi lebih baik. Ujungnya, Majalengka dikenal sebagai daerah yang benar-benar layak diberi predikat pintu gerbang menuju Jawa Barat.

Majalengka merupakan sebuah kabupaten yang terletak di sisi timur Jawa Barat. Kabupaten yang berpenduduk 1,2 juta jiwa ini diapit oleh Cirebon, Indramayu, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Sumedang. Hanya saja, sejauh ini pamor Majalengka di Jawa Barat memang kalah dibanding wilayah lain seperti Bandung dan Cirebon.

Oleh karena itu, ia tak sabar menanti 1 Juli 2019 mendatang, di mana beberapa penerbangan mulai dialihkan dari Bandara Husein Sastranegara menuju kampung halamannya. Ia ingin nama Majalengka dikenal oleh khalayak yang lebih luas.

"Bahkan, kalau lebih cepat (dipindahkan) dari Bandung sebenarnya lebih baik. Lagipula akan lebih enak kalau melihat bandara ini ramai," jelas dia.


Tak hanya itu, ia juga mengaku bangga dan gembira dengan kehadiran Bandara Kertajati. Pasalnya, pengelola bandara baru ini juga menyerap penduduk sekitar sebagai tenaga kerja dan menjadi 'periuk nasi' baru bagi warga sekitar. Ia mengatakan sebagian besar koleganya juga bermukim di Majalengka dan sekitarnya.

Walhasil, bekerja di Bandara Kertajati pun berhasil memupus keinginannya untuk merantau ke tempat lain.

"Kerja di sini tentu dekat dengan rumah, tidak usah keluar ongkos banyak. Sejauh ini saya tidak ada masalah berarti selama bekerja," ujar dia.

Hal serupa juga dirasakan Astari. Wanita berusia 24 tahun yang bekerja sebagai petugas inspeksi terminal ini juga ingin nama Majalengka bisa dikenal melalui Bandara Kertajati.

Dengan bangga, Astari bilang bahwa nama Majalengka selalu terbersit di dalam pikirannya agar semangat kerjanya tetap tinggi.


"Untuk meningkatkan mood kerja, saya selalu ingat tujuan saya yakni mengenalkan Majalengka secara luas," jelas dia.

Semangat ini selalu ada di benaknya selama setahun bekerja di Bandara Kertajati. Meski memang, ia perlu mengeluarkan upaya ekstra dibanding Robby untuk pergi bekerja setiap harinya.

Saat ini, ia bermukim di perbatasan Majalengka dan Sumedang yang memiliki waktu tempuh 40 menit menggunakan sepeda motor. Waktu tempuh yang diakuinya cukup lama untuk ukuran wilayah seperti Majalengka.

Namun, bekerja di Bandara Kertajati tetap menimbulkan kebanggaan tersendiri. "Saya rasa seluruh warga Majalengka yang bekerja di sini pun bangga dengan kehadiran Bandara Kertajati," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN] (lav)