Giro Wajib Minimum Longgar, Likuiditas Bank BUMN Naik Rp8 T

CNN Indonesia | Jumat, 05/07/2019 07:47 WIB
Giro Wajib Minimum Longgar, Likuiditas Bank BUMN Naik Rp8 T Ilustrasi(REUTERS/Darren Whiteside)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menyebut kebijakan pelonggaran rasio Giro Wajib Minimum (GWM) yang dilakukan Bank Indonesia (BI) memberikan tambahan likuiditas sebesar Rp8,5 triliun. Tambahan likuiditas tersebut dinilai memberikan ruang bagi perbankan mencapai target kredit tahun ini.

Mulai 1 Juli 2019 ini, BI sudah menurunkan rasio GWM sebesar 50 basis poin. Dengan penurunan tersebut bank umum konvensional memiliki GWM sebesar 6 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dari sebelumnya 6,5 persen, sementara bank syariah akan memiliki GWM sebesar 4,5 persen dari sebelumnya 5 persen.

GWM sendiri merupakan simpanan minimum perbankan yang ditempatkan di dalam rekening giro yang dikelola BI.


Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo mengatakan pelonggaran GWM akan menambah ruang likuiditas sebesar Rp4 triliun. Sehingga menurut dia, ini bisa mengobati masalah likuiditas yang mendera perbankan sepanjang semester I.

Ia kemudian merinci permasalahan likuiditas yang sempat dialami perbankan. Pada kuartal I, perbankan berebut Dana Pihak Ketiga (DPK) sehingga banyak bank yang berlomba-lomba memoles suku bunga simpanan mereka. Ketatnya likuiditas tercermin dari Rasio Intermediasi (RIM) dari 90,83 persen pada kuartal I tahun lalu menjadi 94.02 persen di tahun ini.


Sementara di kuartal II, DPK menyusut karena nasabah menarik uang kartal menjelang Idul Fitri.

"Jadi challenge sepanjang semester I adalah likuiditas. Tapi kemarin BI menurunkan rasio GWM sehingga kami tetap pasang pertumbuhan kredit hingga akhir tahun, yakni 11 persen hingga 12 persen," jelasnya di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis (4/7).

Penurunan rasio GWM sendiri disebutnya juga memberi sinyal yang baik ke dalam biaya pendanaan (cost of fund) Bank Mandiri. Menurut dia, dengan likuiditas yang lebih terbuka, perbankan tak usah lagi mengiming-imingi bunga DPK tinggi demi menarik perhatian masyarakat untuk menaruh uangnya di bank.

Walhasil, DPK dengan dana yang mahal bisa bisa diturunkan oleh perbankan.


Ia sendiri mengaku Bank Mandiri sempat menerbitkan produk deposito dengan tingkat bunga khusus (special rate deposito) yang lebih mahal dari biasanya. Terlebih pada kuartal I lalu, pertumbuhan deposito Bank Mandiri meningkat 5,98 persen untuk rupiah dan 96,1 persen untuk deposito valas.

"Penurunan suku bunga deposito mungkin akan lebih baik lagi jika bank sentral AS The Fed bersikap dovish di semester II ini, apakah nantinya suku bunganya bisa kami adjust," tutur dia.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Haru Koesmahargyo mengatakan kebijakan pelonggaran GWM oleh BI membuat likuiditas perusahaannya bertambah Rp4,5 triliun. Oleh karenanya, Haru yakin pertumbuhan kredit BRI bisa berada di rentang 12 hingga 14 persen hingga akhir tahun ini.

"Tadinya kan GWM ada di BI, sekarang dikembalikan lagi ke bank jadi ada likuiditas tambahan untuk perbankan," tutur dia.
[Gambas:Video CNN]
Hanya saja menurutnya, rasio kredit terhadap DPK (Loan-to-Deposit Ratio/LDR) tidak serta merta longgar signifikan setelah kebijakan GWM. Tetapi, dampak baik dari kebijakan tersebut adalah penyaluran kredit masih bisa dilakukan meski ada penarikan DPK yang dilakukan secara masif oleh nasabah.

Sekadar informasi, pada kuartal I lalu, rasio LDR BRI tercatat 91,4 persen atau menurun dibandingkan kuartal I 2018 yakni 91,6 persen.

"Dan kami akan tetap menjaga LDR secara optimum di angka 92 persen," jelas dia. (glh/agi)