REKOMENDASI SAHAM

Angin Segar Mengarah pada Saham Emiten Sektor Ritel

CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 09:57 WIB
Angin Segar Mengarah pada Saham Emiten Sektor Ritel Ilustrasi papan perdagangan saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Angin segar sedang mengarah pada saham-saham sektor ritel dan barang konsumsi. Hal itu seiring rencana rilis hasil survei konsumen periode Juni 2019 dan penjualan eceran Mei 2019 oleh Bank Indonesia (BI).

Saham barang konsumsi yang berpotensi merangkak naik dan bisa dilirik pasar antara lain, PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP). Sementara itu, saham ritel yang dapat dibeli adalah PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS).

Analis FAC Sekuritas Wisnu Prambudi Wibowo mengatakan bank sentral akan mengeluarkan survei konsumen dan penjualan eceran pada awal pekan ini. Oleh karena itu, ia meminta pelaku pasar bersiaga untuk mengambil posisi beli pada saham-saham di sektor barang konsumsi dan ritel.


"Senin ada data survei konsumen dari BI, kemudian Selasa ada survei penjualan eceran. Jadi sektor lebih ke konsumen, saham emiten ritel dan konsumsi barang bisa dibeli," ungkap Wisnu kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/7).


Mengutip laman resmi BI, survei konsumen merupakan survei bulanan mengenai keyakinan konsumen terhadap ekonomi saat ini dan ekspektasi kondisi ekonomi pada enam bulan ke depan. Sementara itu, survei penjualan eceran membahas tentang perkembangan penjualan eceran dan konsumsi masyarakat.

Berdasarkan data terakhirnya, survei konsumen pada Mei 2019 terbilang positif. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang meningkat menjadi 128,2 dari posisi April 2019 di angka 128,1.

Sebaliknya, penjualan eceran pada survei terakhir tak begitu baik. Tercatat, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada April 2019 melambat 10,1 persen dibandingkan Maret 2019. Namun, indeks itu naik 6,7 persen dari posisi April 2018 lalu.

Dalam survei penjualan eceran terakhir juga disebutkan bahwa penjualan eceran pada Mei 2019 akan meningkat ditopang oleh banyaknya permintaan selama momen Ramadan kemarin. Beberapa penjualan yang diperkirakan naik, di antaranya kelompok suku cadang dan aksesoris, makanan dan minuman (mamin), dan sub kelompok sandang.


Wisnu mengatakan sentimen untuk saham emiten barang konsumsi dan ritel tak hanya dari data survei yang akan dipublikasikan oleh bank sentral Indonesia. Kebetulan, saham HM Sampoerna, Indofood CBP Sukses Makmur, dan Ramayana Lestari Sentosa juga sudah berada di titik jenuh jual alias oversold.

Saham yang sampai di area jenuh jual artinya sudah melemah beberapa waktu terakhir karena pelaku pasar terus melakukan transaksi jual. Dengan demikian, harga saham pun sudah lebih murah dibandingkan dengan sebelumnya.

"Untuk HM Sampoerna sudah turun dalam tiga bulan terakhir, walaupun memang kalau dilihat tiga hari kemarin sudah mulai naik," tutur Wisnu.

RTI Infokom mencatat saham HM Sampoerna dalam tiga bulan terakhir melorot 13,95 persen. Namun, khusus perdagangan Jumat (5/7) kemarin sudah mulai bangkit dengan kenaikan 3,48 persen ke level Rp3.270 per saham.


"Pekan lalu sudah mulai naik lagi setelah lama turun, pasar bisa memanfaatkan. Target saham sepekan bisa ke level Rp3.500 per saham kurang lebih," ucapnya.

Untuk Indofood CBP Sukses Makmur, penurunan harga sahamnya selama tiga bulan belakangan ini tak sedalam HM Sampoerna. Saham Grup Indofood itu hanya terkoreksi 2,18 persen jika diakumulasi selama tiga bulan terakhir.

Pada akhir pekan lalu, harga saham Indofood CBP Sukses Makmur bergerak stagnan di level Rp10.100 per saham. Pola gerak saham tersebut belum membaik dalam satu pekan terakhir.

"Saham Indofood ini akan masuk fase bangkit (rebound) secara teknikal. Ini untuk jangka pendek," terang Wisnu.

Ia meramalkan saham Indofood CBP Sukses Makmur bisa bertengger di level Rp10.500 pada pekan ini. Bila terwujud, maka saham perusahaan akan merangkak 3,96 persen dari posisi Jumat kemarin.

Wisnu menerangkan sentimen positif untuk saham tersebut tak hanya karena faktor teknikal. Sebab, secara fundamental kondisi keuangan perusahaan juga cukup baik pada kuartal I 2019.

Indofood CBP Sukses Makmur mengantongi laba bersih sebesar Rp1,33 triliun dalam tiga bulan pertama tahun ini atau naik 9,91 persen dari periode yang sama 2018 lalu sebesar Rp1,21 triliun. Perolehan itu sejalan dengan jumlah pendapatan perusahaan yang juga meningkat 13,86 persen dari Rp9,88 triliun menjadi Rp11,25 triliun. 

Ada Peluang Cuan Sepekan, Waktunya Pasar Peka dengan Saham HMFoto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono


Selanjutnya, saham Ramayana Lestari Sentosa terpantau anjlok 20,52 persen selama tiga bulan terakhir. Beruntung, pola gerak sahamnya sudah mulai membaik pada pekan lalu.

Harga saham perusahaan pada Jumat lalu ditutup di level Rp1.375 per saham atau melompat 3,77 persen. Wisnu menilai saham Ramayana Lestari Sentosa juga sempat masuk area jenuh jual, sehingga pasar mulai kembali memborong saham tersebut.

"Secara teknikal masih terus naik karena kemarin-kemarin turun kan. Satu saham pasti selalu ada fase naik dan turun, tidak mungkin diam di satu fase. Ini wajar," jelas Wisnu.

Ia yakin harga saham emiten ritel ini bisa tembus ke area Rp1.600 per saham. Itu artinya saham Ramayana Lestari Sentosa bakal naik signifikan 16,36 persen dari posisi penutupan akhir pekan lalu.


Saham Semen Kena Efek Berlapis

Di samping emiten-emiten berbasis barang konsumsi dan ritel, pasar juga bisa mencermati saham produsen semen. Sentimen dari kemenangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 terus mempengaruhi pola gerak emiten di sektor semen.

Analis Pasardana Arief Budiman mengatakan saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) masih berpeluang naik pekan ini. Berkat kemenangan Jokowi, timbul kepastian di benak pelaku pasar bahwa pembangunan infrastruktur akan terus berjalan.

Penjualan semen pun bakal laris atau bahkan berpotensi meningkat dari sebelumnya. Bila demikian, keuntungan yang diraup perusahaan otomatis juga semakin banyak.

"Ada multiplier effect (efek berlapis) dari dampak pembangunan infrastruktur di sini. Dalam jangka panjang industri semen akan positif," ujar Arief.

[Gambas:Video CNN]

Harga saham perusahaan pelat merah itu naik tipis 0,2 persen atau 25 poin di level Rp12.600 pada Jumat kemarin. Bila dilihat dalam satu pekan terakhir, saham Semen Indonesia berada di zona hijau dengan penguatan 8,86 persen.

"Target terdekat atau jangka pendek saham Semen Indonesia bisa di angka Rp13.250 per saham," terang Arief.

Bila saham perusahaan sampai ke level Rp13.250 per saham, maka bisa dibilang pasar berpeluang meraih cuan sebesar 5,15 persen jika mengambil posisi sejak awal pekan ini. (aud/lav)