Sri Mulyani Khawatirkan Penurunan Kinerja Ekspor

CNN Indonesia | Senin, 08/07/2019 21:20 WIB
Sri Mulyani Khawatirkan Penurunan Kinerja Ekspor Menteri Keuangan Sri Mulyani mulai khawatirkan pelemahan kinerja ekspor. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mulai mengkhawatirkan kinerja ekspor dan impor dalam negeri. Kekhawatiran disampaikan terkait penurunan nilai ekspor dan impor pada periode Januari-Mei 2019.

Menurutnya, penurunan tersebut akan mempengaruhi ekonomi dalam negeri. Oleh karena itulah, ia mengatakan perlu perhatian seluruh kementerian terkait untuk mengatasi masalah tersebut.

"Jadi untuk tahun 2019 ini tentu kita berharap di semester kedua apalagi dari saya menyampaikan laporan semester satu dari APBN terlihat bahwa dari sisi external balance-nya yaitu ekspor-impor itu mengalami pelemahan dan itu berkontribusi kepada pelemahan ekonomi kita di dalam negeri juga" kata Sri Mulyani usai sidang kabinet paripurna, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (8/7).


Dalam membuka sidang kabinet, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut neraca perdagangan periode Januari-Mei 2019 masih defisit US$2,14 miliar.


Menurut Jokowi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor dan impor RI periode Januari-Mei 2019 turun masing-masing 8,6 persen dan 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sri Mulyani melanjutkan untuk menangani masalah neraca perdagangan dibutuhkan kerja bersama seluruh kabinet. Menurutnya, dalam rapat tadi Jokowi meminta seluruh menteri harus melihat secara detail komoditas dan negara tujuan ekspor.

"Beliau tadi menyampaikan bahwa seluruh tim harus melihat secara detail komoditasnya, negara tujuannya, supaya kita juga bisa formulasikan kebijakan yang lebih tepat mengenai hal tersebut," ujarnya.

Sementara terkait pemberian insentif, kata Sri Mulyani, Jokowi meminta agar kementerian terkait memberikan kemudahan kepada para pengusaha. Salah satu contoh insentif yang bisa diberikan adalah soal izin penggunaan lahan.

[Gambas:Video CNN]

"Tadi yang disampaikan bapak presiden ya lebih kepada bagaimana kita memberikan kemudahan, proses seperti mendapatkan tanah dan lain-lain. Nanti dilihat saja oleh para menteri yang lain melalui instrumen kebijakan yang mereka miliki," tuturnya.

Sebelum, Jokowi mengatakan bahwa neraca perdagangan periode Januari-Mei 2019 masih defisit US$2,14 miliar. Berdasarkan data BPS, ekspor dan impor RI periode Januari-Mei 2019 turun masing-masing 8,6 persen dan 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurut Jokowi, Indonesia memiliki peluang yang besar bidang ekspor, terutama dengan kondisi perang dagang antara AS dan China. Ia menyatakan seharusnya pemerintah memberikan insentif terhadap eksportir baik yang kecil, sedang, maupun besar, termasuk insentif berupa bunga.

Selain itu, Jokowi juga meminta izin investasi yang berkaitan dengan barang ekspor dan substitusi impor dipermudah. Ia mengatakan seharusnya izin investasi tersebut diberikan secepat-cepatnya dengan 'tutup mata'.

(fra/agt)