Likuiditas Mengetat, Bank Mulai Rem Aliran Kredit

CNN Indonesia | Rabu, 10/07/2019 08:32 WIB
Likuiditas Mengetat, Bank Mulai Rem Aliran Kredit Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perbankan di Tanah Air mulai mengkaji kembali target pertumbuhan kredit yang sudah dituangkan ke dalam Rencana Bisnis Bank (RBB). Hal ini terjadi karena likuiditas mulai mengetat, sejalan dengan minimnya gairah arus modal asing masuk ke dalam negeri.

Salah satunya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN. Bank spesialis Kredit Pemilikan Rumah (KPR) itu bahkan sudah memangkas target pertumbuhan kredit dari semula di kisaran 17 persen menjadi 15 persen-16 persen sampai akhir tahun nanti.

Padahal, perseroan berhasil membukukan penyaluran kredit mencapai Rp242,13 triliun pada kuartal I 2019. Realisasi itu sudah tumbuh sampai 19,57 persen dibanding kuartal I 2018.

Meski begitu, Direktur Utama BTN Maryono tampaknya terlanjur pesimis dengan kemampuan perseroan dalam mengejar target yang telah ditetapkan. Hal ini tak terlepas dari pengetatan likuiditas bank, meskipun sudah ada 'angin segar' pelonggaran dana cadangan bank di BI alias Giro Wajib Minimum (GWM).


"Kami tetap ada penurunan sedikit karena likuiditas, sehingga kalau dulu (target pertumbuhan kredit) 17 persen, ya sekarang 15 persen sampai 16 persen," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (9/7).

Sayangnya, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) ini masih enggan merinci sektor dan segmen kredit mana yang sekiranya bakal 'melempem' pada tahun ini.

Namun, ia memberi indikasi bahwa penyaluran KPR subsidi masih bisa lebih 'tokcer' ketimbang non subsidi. "Soalnya marketnya agak turun yang di non subsidi," celetuknya.

Untuk pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), Maryono hanya menekankan bahwa perseroan tetap berusaha agar pertumbuhannya sesuai dengan target. Meski, pertumbuhannya sudah melambat pada tiga bulan pertama tahun ini.


Pada Januari-Maret 2019, pertumbuhan DPK hanya 10,98 persen menjadi Rp215,83 triliun. Padahal, pada periode Januari-Maret 2018, DPK BTN bisa tumbuh mencapai 23,54 persen menyentuh Rp194,48 triliun. "DPK mudah-mudahan masih sama (dengan target)," katanya.

Sementara, Direktur Utama PT CIMB Niaga Tbk Tigor M. Siahaan memiliki pandangan berbeda. Meski mengakui ada tantangan likuiditas saat ini, namun ia melihat hal ini masih bisa membuat bank bisa menorehkan kinerja yang baik sampai akhir tahun.

Dari optimisme itu, ia bahkan mengaku tak mengubah target apapun dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang sudah disusun secara moderat dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini, katanya, lantaran bank percaya bahwa gairah ekonomi usai Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019 bakal membaik.

"Dari segi inflow (aliran modal asing masuk), dari capital market, bond market, equity itu ada lebih dari triliun yang masih masuk, rupiah juga cukup baik. Jadi, (target pertumbuhan kredit) masih mirip-mirip, masih single digit, mudah-mudahan high single digit," terang dia.


Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Rohan Hafas juga mengaku tak mengubah target pertumbuhan sejumlah indikator dalam RBB. Meski, ia tak memungkiri bahwa kondisi ekonomi dan likuiditas bank tengah menantang.

"Ada revisi minor (RBB), tapi bukan soal angka, lebih ke kegiatan operasional. Misalnya, soal buka cabang, kemarin tidak dicantumkan. Kalau (pertumbuhan) kredit tetap 11 persen," jelasnya.

Sebelumnya, indikasi likuiditas perbankan melambat tercermin dari redupnya pertumbuhan DPK di perbankan dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan DPK bank sebesar 9,14 persen pada Januari 2019.

Laju pertumbuhan DPK kembali menciut pada Februari menjadi 6,54 persen. DPK sempat meningkat pada Maret menjadi 7,18 persen. Namun, setelah itu kembali merosot ke 6,63 persen pada April dan 6,27 persen pada Mei 2019.
[Gambas:Video CNN]
Terbantu GWM

Di saat likuiditas mengetat, BI memberikan pelonggaran berupa penurunan rasio GWM yang berlaku sejak 1 Juli 2019. Namun demikian, bank sentral nasional tetap mengklaim bahwa kondisi likuiditas di Tanah Air masih aman.

Dari pelonggaran tersebut, BTN mengaku setidaknya mendapat pengembalian cadangan kas dari bank sentral nasional ke bank sekitar Rp1 triliun sampai Rp1,5 triliun. Maryono pun berharap tambahan likuiditas dari GWM ini bisa menjadi cadangan bagi penyaluran kredit.

Sementara Tigor mengatakan CIMB Niaga setidaknya mendapat tambahan Rp1 triliun dari perubahan rasio GWM. "Ini lumayan, meski tidak signifikan," ungkapnya.

Sedangkan Bank Mandiri mendapat tambahan likuiditas dari GWM sekitar Rp4 triliun. Kendati begitu, Rohan mengatakan tambahan likuiditas itu tak digunakan perseroan untuk penyaluran kredit, melainkan untuk membeli instrumen di pasar uang, sehingga menambah portofolio perusahaan.


(uli/bir)