Pemerintah Waspadai Kemarau Panjang Terhadap Inflasi

CNN Indonesia | Rabu, 10/07/2019 19:59 WIB
Pemerintah Waspadai Kemarau Panjang Terhadap Inflasi Ilustrasi kemarau. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mewaspadai dampak musim kemarau tahun ini terhadap inflasi. Kewaspadaan dilakukan karena mereka memperkirakan, kemarau tahun ini akan lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Bambang Brodjonegoro mengatakan perkiraan tersebut menjadi fokus utama rapat koordinasi mengenai inflasi yang berlangsung di Kementerian Koordinator Perekonomian. Menurut dia, musim kemarau panjang akan berpengaruh ke hasil produksi tanaman pangan, sehingga berdampak ke harga pangan.

"Kami harus benar-benar mengantisipasi musim kekeringan yang mungkin di tahun ini agak di luar kebiasaan," jelas Bambang, Kamis (10/7).


Bambang mengatakan fokus antisipasi akan dilakukan terhadap pengendalian inflasi volatile food. Fokus dibuat karena volatile food kerap membebani inflasi dari tahun ke tahun.


Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi bahan pangan bergejolak secara tahun ke tahun (year-on-year) hingga Juni mencapai 4,91 persen. Inflasi tersebut lebih tinggi dari inflasi keseluruhan yang mencapai 3,28 persen.

"Jadi ada beberapa komoditas yang diperhatikan. Beras laporannya masih aman, tapi kami juga perhatikan komoditas lainnya," jelas dia.

Sementara itu, Kepala BPS Suhariyanto menyebut beberapa komoditas yang bisa menyumbang inflasi di masa kemarau, seperti beras, cabai merah, dan cabai rawit. Sementara itu, bawang putih yang sempat menjadi momok inflasi diperkirakan akan jinak hingga akhir tahun seiring impor yang sudah mulai berjalan.

Maka dari itu, ia menyarankan pemerintah tidak hanya berkonsentrasi di produksi tapi jalur distribusi yang lebih efisien. Kemudian, distribusi yang efektif juga harus diperbaiki, utamanya untuk komoditas pangan yang mudah busuk.


"Nanti kami akan adakan lagi rapat koodinasi nasional inflasi tanggal 25 Juli mendatang untuk mengevaluasi inflasi hingga pertengahan tahun ini dan antisipasi, tapi dasarnya oke semua," jelasnya.

Beras Aman

Sementara itu walau kemarau diperkirakan akan lebih panjang, Perum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) menyatakan stok beras aman hingga akhir tahun ini. 

Direktur Utama Bulog Budi Waseso memperkirakan kebutuhan beras Bulog untuk Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) hingga Desember nanti mencapai 1,5 juta ton. Adapun saat ini, Bulog memiliki cadangan beras di gudang sebanyak 2,2 juta ton.

Dengan demikian, seharusnya masih ada ruang bagi Bulog agar bisa melakukan operasi pasar.


"Prediksi ke depan kami masih punya cadangan, jadi masih aman," jelas pria yang akrab disapa Buwas ini.

Karena pasokan yang berlebih, ia yakin beras tidak akan menyumbang inflasi secara signifikan hingga akhir tahun ini. Penyerapan Bulog, lanjut dia, juga akan tetap berjalan seperti biasa dan tidak perlu dikhawatirkan meski memasuki musim kemarau.

Data Bulog per 10 Juli 2019 menunjukkan bahwa realisasi pengadaan beras mencapai 802.880 ton secara tahun kalender (year-to-date).

"Jadi tidak perlu dikhawatirkan," tutur dia.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan pasokan Bulog menjadi kunci stabilitas pasokan beras mengingat produksi beras akan diprediksi turun 2 juta ton pada tahun ini.

Jika produksi tahun lalu mencapai 32,42 juta ton, maka ada kemungkinan produksi tahun ini hanya 30 juta ton saja. Beberapa faktor penurunan produksi tersebut disebabkan oleh luas areal tanam yang menurun, musim panen yang bergeser sebulan lebih lambat sehingga mengakibatkan puncak panen kedua jatuh pada Agustus.

Sementara, musim panas mencapai titik didih tertingginya pada Agustus. "Sehingga nantinya akan ada banyak gagal panen (puso) atau produksi menurun tajam. Jadi Bulog harus pintar-pintar mengatur stok agar harga stabil," terang dia.
(glh/agt)