Setidaknya, hitung-hitungan Bambang melansir pemindahan ibu kota menyumbang 0,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Secara nilai, apabila PDB RI saat ini sebesar Rp15 ribu triliun, maka pemindahan ibu kota bisa menyumbang Rp15 triliun.
"Dan, 0,1 persen ini, meski kecil jelas bukan angka yang kecil. Karena PDB kita sekarang mencapai Rp15 ribu triliun. Jadi, 0,1 persen itu dampak langsungnya mungkin Rp15 triliun," ujarnya di Kantor Bappenas, Rabu (26/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemindahan ibu kota juga diyakini mampu mengerek price of capital dan price of labour. Dua faktor ini diperkirakan dapat memperkecil ketimpangan, karena menciptakan diversifikasi ekonomi ke arah sektor padat karya.
Belum lagi, dampaknya dalam mengurangi kesenjangan antar wilayah karena mendorong perdagangan dan investasi.
Bahkan, menurut Bambang, pemindahan ibu kota tidak akan menimbulkan kontraksi ekonomi atau pengurangan nilai ekonomi di wilayah lainnya.
[Gambas:Video CNN]
Bappenas memastikan lokasi ibu kota baru berada di luar Pulau Jawa. Saat ini, kajian penentuan lokasi ibu kota baru sendiri sudah mencapai lebih dari 90 persen.
Tahun ini, Bappenas menargetkan lokasi ibu kota baru sudah ditetapkan. Selanjutnya, pembangunan (ground breaking) infrastruktur ibu kota baru bisa dimulai pada 2021 mendatang dan proses pemindahan tahap pertama ditargetkan mulai pada 2024.
Bappenas memproyeksi hajatan nasional ini membutuhkan dana sebesar US$23 miliar-US$33 miliar atau setara Rp323 triliun-Rp466 triliun. (ulf/bir)