Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan pertumbuhan laba bersih ditopang oleh pendapatan bunga yang mencapai Rp44,48 triliun atau tumbuh 14,85 persen dari tahun lalu yang hanya Rp38,73 triliun.
"Perseroan juga berhasil menurunkan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) sebesar 21,28 persen," katanya, Rabu (17/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rasio NPL gross tersebut merupakan angka terendah sejak triwulan III 2015," imbuhnya.
Sementara itu, kredit komersial justru turun 7,2 persen dari Rp143,4 triliun menjadi Rp133,2 triliun. Lebih lanjut, ia bilang peningkatan penyaluran kredit disumbang oleh proyek-proyek infrastruktur. Sebagai bank plat merah, penyaluran kredit ke sektor tersebut mencapai tumbuh 22,6 persen dari Rp165,8 triliun menjadi Rp203,4 triliun per Juni 2019.
Bank Mandiri juga menyalurkan kredit pada program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Total KUR pada semester I 2019 naik 27,4 persen dari Rp8,27 triliun menjadi Rp10,54 triliun kepada 138.090 debitur.
[Gambas:Video CNN]
Mayoritas KUR atau sebesar 51,0 persen senilai Rp5,4 triliun disalurkan kepada sektor produksi, yakni pertanian, perikanan, industri pengolahan, dan jasa produksi.
"Hingga akhir tahun kami sangat optimis dapat membukukan target pertumbuhan kredit di kisaran 11 persen - 12 persen," katanya.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 5 persen dari Rp803 triliun menjadi Rp843,2 triliun. Dari sisi aset, bank dengan kode saham BMRI ini berhasil meraih pertumbuhan aset sebesar Rp6,93 persen dari Rp1.155,5 triliun menjadi Rp1.235,6 triliun.
Lebih lanjut, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) naik 20,64 persen ke level 21,01 persen. Sementara margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) turun dari 5,72 persen menjadi 5,58 persen. (ulf/agt)