Masyita Crystallin, Economist DBS Group Research memprediksi BI akan menurunkan suku bunga acuan secara akumulatif sebesar 75 bps, yakni 25 bps pada tahun ini dan 50 bps pada 2020.
"Hal itu seiring kinerja rupiah yang baik di tengah kebijakan lunak bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, serta perbaikan dalam neraca perdagangan nasional," ujar Masyita dalam keterangan tertulis, Kamis (18/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Masih Jenuh Beli, IHSG Diramal Merah Lagi |
Walaupun harga bahan bakar minyak (BBM) dan listrik perlu disesuaikan tahun ini, DBS tidak beranggapan inflasi dapat bergeser jauh dari sasaran titik tengah BI yang sebesar 3,5 persen.
Pada dasarnya, ruang perbaikan neraca perdagangan akan lebih sempit jika harga komoditas menurun, sementara penyusutan volume ekspor industri manufaktur berlanjut.
Di sisi lain, impor barang modal akan digenjot sepanjang 2019 karena infrastruktur masih menjadi prioritas Presiden Joko Widodo.
Eugene Leow, Rates Strategist DBS Group Research menilai rupiah relatif stabil dalam satu bulan terakhir. Kurs rupiah mencapai Rp13.900 per dolar AS pada 16 Juli 2019, dan terapreasiasi 3,75 persen dalam periode tahun kalender. Persentase penguatan rupiah tercatat tertinggi kedua di Asia setelah mata uang Thailand.
"Rupiah dapat terus bertahan karena tingkat suku bunga tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan, seperti India," ungkap Eugene.
Maka itu, masuk akal jika BI mengambil kesempatan untuk melonggarkan kebijakan moneter. Risiko pelebaran defisit dan aliran modal yang semakin fluktuatif dapat menutup kesempatan ini.
Terlebih, Indonesia adalah salah satu negara yang secara agresif menaikkan suku bunga acuan sepanjang siklus penaikan suku bunga The Fed tahun lalu. Oleh karena suku bunga riil masih tinggi, ada peluang bagi BI untuk menurunkan suku bunga.
[Gambas:Video CNN] (lav)