Cegah Stunting Mulai dari Kebersihan Laut

CNN Indonesia | Minggu, 21/07/2019 09:05 WIB
Cegah Stunting Mulai dari Kebersihan Laut Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Sukabumi, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memerintahkan nelayan di Desa Ciwaru, Sukabumi, Jawa Barat, menjaga kebersihan laut. Pasalnya, Sukabumi menjadi Tempat Pelelangan Ikan (TPI) online pertama.

Selain itu, bila ikan di laut terpapar sampah mikro plastik, hasil tangkapan nelayan yang dikonsumsi masyarakat, terutama ibu hamil akan sangat berbahaya. Bahkan, diklaim memicu stunting atau kondisi kurang gizi kronis yang berakibat pada pertumbuhan tinggi seseorang yang jauh lebih pendek dibanding standar usianya.

"Saya berharap nelayan tanggung jawab dengan kebersihannya. Jangan buang sampah di laut, agar semua baik-baik. Saya yakin, bapak bupati Sukabumi tidak mau masyarakat bodoh atau terbelakang," ujarnya saat peluncuran TPI Online, Sabtu (20/7).

Karenanya, Luhut meminta masyarakat untuk saling mengingatkan satu sama lain dalam menjaga kebersihan laut. "Makanya, ibu-ibu ingatkan di tempat pengajian, masjid, atau mana saja terkait masalah sampah," tegas dia.


Sejauh ini, ia menilai kebersihan laut di sekitar Sukabumi sudah lebih baik ketimbang beberapa bulan lalu. Namun, ia mensinyalir kebersihan terjaga karena pemerintah mengagendakan kunjungan ke kawasan tersebut.

"Empat bulan lalu, sampahnya masih lumayan (banyak), sekarang sudah lebih baik. Tapi, jangan karena saya datang, lalu dibersihkan. Seharusnya ini menjadi model sehari-hari," imbuh Luhut.

Warna, salah satu ketua kelompok nelayan di Desa Ciwaru, meminta pemerintah turun tangan dalam mengatasi sampah plastik di sekitar laut Desa Ciwaru. Minimal, kata dia, ada tim kebersihan yang diterjunkan pemerintah setempat setiap hari untuk mengambil sampah.

"Saya usul ada tim kebersihannya yang mengambil sampah-sampah di sekitar laut begitu, ini kan tidak ada," ucap Warna kepada CNNIndonesia.com.


Terlebih, mobil pengangkut sampah biasanya hanya datang satu kali dalam seminggu. Jumlah mobilnya pun hanya satu unit.

Padahal, sampah yang diangkut tidak bisa dibilang sedikit. Apalagi, kawasan Desa Ciwaru juga berdekatan dengan tempat wisata.

"Kalau bisa ya dua kali dalam seminggu, mobilnya tidak hanya satu. Itu sampah kadang tidak cukup di mobil," terang dia.

Kendati begitu, Warna memang mengakui masih banyak nelayan yang membuang sampah di sekitar laut. Kesadaran untuk menjaga kebersihan masyarakat sekitar terbilang masih rendah.
[Gambas:Video CNN]
"Mereka kan kadang bawa makanan bekal untuk melaut, ya memang masih suka buang di sekitar laut sampah plastiknya," katanya.

Selain nelayan, pembeli ikan di TPI Palangpang juga kerap membuang sampah plastik sembarangan. Hal ini diakui Warna menambah timbunan sampah di sekitar Desa Ciwaru.

"Pembeli kan suka dikasih plastik yang berisi es, nah plastik itu suka dibuang saja di pinggir laut," tuturnya.

Makanya, ia berpendapat jika ada tim kebersihan yang dikirim oleh pemerintah setempat setiap hari, kondisi sampah plastik di sekitar Desa Ciwaru bisa teratasi. Namun, hal itu memang belum ia bicarakan kepada pejabat setempat.

"Saya kemarin baru ngobrol dengan mahasiswa, semoga obrolan itu bisa disampaikan ke pejabat di atas," pungkasnya.


(aud/bir)