Rupiah Tertekan Mendarat di Posisi Rp14.020 per Dolar AS

CNN Indonesia | Senin, 29/07/2019 16:44 WIB
Rupiah Tertekan Mendarat di Posisi Rp14.020 per Dolar AS Ilustrasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.020 per dolar AS pada perdagangan pasar spot, Senin (29/7) sore. Posisi ini melemah 12 poin atau 0,08 persen dibandingkan Jumat (26/7), yakni di Rp14.008 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.010 per dolar AS atau melemah dari posisi akhir pekan lalu di Rp14.001 per dolar AS.

Rupiah berada di zona merah bersama beberapa mata uang Asia lainnya. Yuan China melemah 0,18 persen, ringgit Malaysia minus 0,15 persen, dan dolar Singapura minus 0,15 persen.

Namun, mayoritas di antaranya berhasil menguat dari dolar AS, seperti dolar Hong Kong menguat 0,02 persen, yen Jepang 0,05 persen, dan peso Filipina 0,05 persen. Kemudian, baht Thailand 0,05 persen, rupee India 0,06 persen, won Korea Selatan 0,12 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara maju justru terperosok ke zona merah. Poundsterling Inggris melemah 0,47 persen, rubel Rusia minus 0,32 persen, dolar Kanada minus 0,08 persen, dan euro Eropa minus 0,04 persen.

Hanya franc Swiss yang menguat 0,16 persen dari mata uang Negeri Paman Sam. Sementara dolar Australia stagnan.

Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah melemah karena tertekan sejumlah sentimen yang menguatkan dolar AS. Yakni, pasar memperkirakan penurunan tingkat bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve tidak akan setinggi ekspektasi awal.

Pasalnya, rilis pertumbuhan ekonomi AS cukup memuaskan, yaitu di angka 2,1 persen pada kuartal II 2019. "Akibatnya, peluang pemotongan setengah poin dari The Fed tampaknya telah menyusut, kemungkinan hanya 25 basis poin," ungkap Ibrahim kepada CNNIndonesia.com, Senin (29/7).

Selain itu, masih ada potensi kelanjutan perang dagang antara AS dan China. Hal ini terbaca dari pandangan pesimis dari Presiden AS Donald Trump yang menyatakan bahwa China kemungkinan tidak akan menandatangani suatu perjanjian sebelum pemilihan umum AS pada November 2020 mendatang.

Sementara itu, belum ada sentimen positif dari domestik. Sebab, rilis data investasi dan inflasi baru akan dilakukan jelang akhir pekan ini.

Di sisi lain, poundsterling Inggris dan euro Eropa melemah dari mata uang negara adidaya karena kelanjutan proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Britania Exit/Brexit) tidak berlanjut lagi.
[Gambas:Video CNN]


(uli/bir)