Rupiah Melemah ke Rp14.008 per Dolar AS di Akhir Pekan

CNN Indonesia | Jumat, 26/07/2019 16:42 WIB
Rupiah Melemah ke Rp14.008 per Dolar AS di Akhir Pekan Ilustrasi dolar AS. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.008 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (26/7) sore. Rupiah tercatat melemah 0,23 persen dibandingkan penutupan Kamis (25/7) sore, yakni Rp13.977 per dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.001 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin, yaitu Rp13.986 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di dalam rentang Rp14.000 hingga Rp14.012 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,04 persen, dolar Singapura melemah 0,09 persen, yuan China melemah 0,12 persen, ringgit Malaysia melemah 0,13 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,29 persen.

Namun, terdapat pula mata uang yang menguat terhadap dolar AS, yakni dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, baht Thailand sebesar 0,05 persen, dan peso Filipina sebesar 0,13 persen. Di sisi lain, rupee India bergeming menghadapi dolar AS.


Kemudian, mata uang negara maju juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Euro melemah 0,11 persen, poundsterling Inggris melemah 0,19 persen, dan dolar Australia melemah 0,29 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah disebabkan ekspektasi pasar akan pelonggaran kebijakan moneter bank-bank sentral global kian ciut. Terlebih, Bank Sentral Eropa memutuskan untuk tidak menurunkan suku bunga acuan setidaknya hingga semester I tahun depan.

Ini membuat pelaku pasar yakin bahwa bank sentral AS, The Fed, mungkin masih akan menurunkan suku bunga acuannya, Fed Rate, namun tidak sedalam seperti ekspektasi sebelumnya.

The Fed diprediksi hanya akan menurunkan Fed Rate 25 basis poin dari ramalan sebelumnya 50 basis poin pada rapat komite pasar federal terbuka (FOMC) akhir bulan ini.


"Tetapi, pemangkasan sebanyak tiga kali di tahun ini masih terbuka lebar," jelas Ibrahim, Jumat (26/7).

Kemudian, AS juga mencatat lonjakan pesanan barang modal, di mana data itu tentu memberi dampak bagi The Fed untuk menahan suku bunga acuannya. Namun, pasar kini tetap menunggu rilis pertumbuhan ekonomi AS kuartal II yang sedianya diumumkan Jumat (26/7) waktu setempat.

"Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan melambat menjadi 1,8 persen pada kuartal kedua dari 3,1 persen pada kuartal sebelumnya," pungkasnya.


(glh/bir)