LPS: Suku Bunga Penjaminan Simpanan Turun 25 Bps Besok

CNN Indonesia | Selasa, 30/07/2019 18:18 WIB
LPS: Suku Bunga Penjaminan Simpanan Turun 25 Bps Besok Ilustrasi LPS. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan menurunkan suku bunga penjaminan sebesar 25 basis poin untuk simpanan berdenominasi rupiah, baik untuk bank umum maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Dengan demikian, suku bunga penjaminan rupiah di bank berubah dari 7 persen menjadi 6,75 persen dan BPR dari 9,5 persen ke 9,25 persen.

Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah mengatakan penurunan suku bunga pinjaman ini akan berlaku mulai Rabu (31/7). Hanya saja, ia enggan memberi tahu secara detail ihwal rencana kebijakan tersebut.


"Hal yang pasti ini ditentukan setelah melalui beberapa pertimbangan dan kenaikan ini akan berlaku esok hari," jelas Halim, Selasa (30/7).


Menurut Halim, hal tersebut disebabkan karena LPS menilai suku bunga simpanan masyarakat di perbankan diproyeksi akan turun selepas Bank Indonesia (BI) menurunkan suku bunga acuan 25 basis poin dari 6 persen ke 5,75 persen bulan ini. Apalagi, suku bunga simpanan juga terpantau menurun sejak awal tahun.

Data LPS secara tahun kalender (year to date) hingga 23 Juli 2019 lalu menunjukkan suku bunga deposito maksimum sudah turun 13 basis poin menjadi 7,9 persen. Kemudian, suku bunga rata-rata deposito juga menurun 5 basis poin menjadi 6,11 persen.

Di sisi lain, suku bunga rata-rata deposito valas malah naik 2 basis poin ke 1,25 persen. "Dan sesuai ini, kami tidak akan mengubah suku bunga penjaminan simpanan valuta asing, yakni tetap 2,25 persen," jelas dia.

Dengan penurunan suku bunga penjaminan ini, Halim berharap biaya dana (cost of fund) bisa melandai. Pada akhirnya, hal itu akan membuka ruang bagi perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit.


"Biasanya setelah LPS menyesuaikan suku bunga penjaminan, dampaknya ke suku bunga kredit ini baru terasa tiga hingga enam bulan setelah itu," tutur Halim.

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo menyambut baik kebijakan LPS lantaran bisa mendorong perbankan dalam menyalurkan kreditnya. Apalagi, BI juga telah melakukan kebijakan pelonggaran moneter yang diharapkan juga bisa membantu likuiditas perbankan.

Pada awal bulan ini, BI menurunkan rasio Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin. Tak hanya penurunan itu, BI juga telah menaikkan Rasio Intermediasi Perbankan (RIM) dari 80 persen hingga 92 persen menjadi 84 hingga 94 persen sehingga perbankan memiliki ruang likuiditas lebih untuk menyalurkan kredit.

"Jadi, transmisi dampak penurunan suku bunga BI ke perbankan diharapkan bisa lebih cepat karena kami ada pelonggaran likuiditas dan ada penurunan suku bunga penjaminan juga dari LPS. Kami juga ingin suku bunga turun agar kredit digunakan oleh sektor riil dan pertumbuhan," kata Perry.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)