Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2019 'Cuma' 5,05 Persen

CNN Indonesia | Senin, 05/08/2019 11:28 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2019 'Cuma' 5,05 Persen Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 hanya 5,05 persen secara tahunan atau melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 5,27 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) pada kuartal kedua tahun ini tercatat Rp2.753 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu Rp2.603 triliun. Atas dasar harga bruto (ADHB), PDB kuartal II 2019 tercatat Rp3.963, triliun.

"Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I sampai dengan kuartal II 2019 dibandingkan kuartai I sampai dengan kuartal II 2018 tumbuh 5,06 persen," sebutnya dalam konferensi pers, Senin (5/8).


Dalam perhitungan kuartalan, pertumbuhan ekonomi tiga bulan kedua tahun ini cuma tumbuh 4,2 persen. Namun, masih membaik jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal I yang secara kuartalan turun 0,52 persen.


"Angka pertumbuhan q-to-q kuartalan akan dipengaruh oleh faktor musiman seperti ramadan, lebaran dan pergeseran musim panen," ujarnya.

Menurut lapangan usaha, sektor jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 10,73 persen secara tahunan. Namun, karena porsinya terhadap PDB hanya sekitar 1,92 persen, kontribusinya tak signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, porsi sektor manufaktur masih dominan terhadap PDB dengan nilai 19,52 persen. Kendati demikian, pertumbuhannya hanya tercatat 3,54 persen, melambat dari periode yang sama tahun lalu 3,88 persen.

Jika dirinci lebih detil, industri batu bara dan pengolahan migas turun 0,25 persen.


Suhariyanto menjelaskan harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada kuartal II 2019 turun 6,12 persen dibandingkan ICP pada kuat II 2018. Penurunan juga terjadi pada harga batu bara yang merosot 22,9 persen dan minyak sawit yang tergerus 16,7 persen.

"Ekspor utama Indonesia adalah batu bara dan CPO minyak sawit mentah sehingga penurunan harga ini akan berpengaruh pada kegiatan ekspor dan impor yang menjadi komponen pertumbuhan PDB," katanya.

Sementara, industri non migas naik 3,98 persen terutama ditopang oleh industri tekstil dan pakaian jadi yang melesat 20,71 persen.

"Industri tekstil dan pakaian jadi tumbuh signifikan didukung oleh peningkatan produksi di beberapa sentra produksi tekstil dan pakaian jadi,"
ujarnya.

Di sisi lain, industri karet, barang dari karet dan plastik turun disebabkan oleh penurunan permintaan luar negeri dan domestik.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 hanya mencapai 5,12 persen. Proyeksi ini lebih tinggi dari raihan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen namun lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen.

[Gambas:Video CNN]

Menurut Darmin, menurunnya kinerja pertumbuhan tahun ini dibandingkan tahun lalu karena mendapat tekanan dari perlambatan ekonomi global. Kondisi ini diperkuat dengan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh lembaga keuangan internasional.

Sebagai catatan, Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksinya dari 3,3 persen pada April menjadi 3,2 persen pada Juli. Hal sama juga dilakukan oleh Bank Dunia dengan memangkas proyeksinya hingga 0,3 persen dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2019. (sfr/lav)