Sebab, pemerintah masih cukup yakin beberapa indikator ekonomi akan membaik pada kuartal III dan IV mendatang. Pernyataan tersebut diungkap oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution usai Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (5/8).
Ia mengakui secara angka memang terlihat jelas bahwa laju ekonomi kuartal II 2019 lebih rendah dari kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen dan kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu pula dengan investasi yang tumbuh 5,01 persen. "Memang ada perlambatan ekonomi pada kuartal kedua ini, tapi penjelasan dari BKPM menyatakan bulan-bulan terakhir ini, investasi mulai naik lagi. Jadi itu bukan gejala permanen karena investasi masih naik," jelasnya.
Kendati begitu, ia tak memungkiri bahwa kinerja ekspor dan impor memang belum bisa diharapkan. Ekspor tumbuh negatif 1,81 persen dan impor minus 6,73 persen pada kuartal II 2019.
[Gambas:Video CNN]
Ia mengatakan kinerja kedua komponen pembentuk neraca perdagangan sama-sama kurang bergairah karena tekanan perlambatan ekonomi dunia. "Ini terlihat dari gejala ekonomi dunia. Ekspor lambat, impor itu masih naik, sehingga ekonomi kegiatannya tetap jalan," terangnya.
Terkait kondisi ini, Darmin pun memastikan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam. Pemerintah, katanya, akan terus mengeluarkan kebijakan yang bisa mendorong berbagai indikator perekonomian.
Misalnya, dengan memberikan insentif fiskal yang bisa menarik minat investor. "Kami keluarkan tax holiday, macam-macam. Kami tinggal membuat itu benar-benar membumi," tuturnya.
Senada, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan pemerintah akan terus berupaya agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Bahkan, ia masih cukup yakin bila perekonomian bisa tumbuh 5,2 persen sampai akhir tahun ini.
"PMA di kuartal II sebenarnya sudah tumbuh di atas 9 persen. Saya masih cek di sektor keuangan, seperti pertumbuhan kredit, belanja perusahaan, itu masih relatif positif. Jadi mungkin akan terekam di kuartal III dan IV untuk investasi," terangnya.
Di sisi lain, menurutnya, ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih bisa mendekati target pemerintah karena indikator konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah cukup sesuai dengan ekspektasi.
"Jadi mungkin dalam hal ini, kami lihat hanya perlu untuk meningkatkan investasi dan ekspor," tandasnya.
"Investasi tumbuh di bawah perkiraan, kemudian sektor manufaktur yang agak memprihatinkan karena tumbuh di bawah empat persen," ungkapnya.
Meski begitu, menurutnya, laju perekonomian masih bisa tumbuh di kisaran 5,05 persen karena terselamatkan oleh kontribusi pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga. Hal ini tak lepas dari sumbangan konsumsi masyarakat selama Ramadan, Lebaran, dan jatah Tunjangan Hari Raya (THR).
"Itu tertolong konsumsi, konsumsinya sudah jalan, tapi investasi masih ketinggalan. Ditambah ekspor yang sangat sulit karena kondisi trade war," terangnya.
Kecuali, pemerintah bisa benar-benar mendorong investasi agar tumbuh sangat cemerlang pada kuartal III dan IV mendatang. Begitu pula dengan industri manufaktur yang memiliki peran besar bagi perekonomian domestik.
"Mungkin berat untuk mencapai 5,3 persen, mungkin mudah-mudahan 5,1 persen. Tapi tidak sampai 4,9 persen, tidak mungkin, 5,1 persen lah. Masih ada harapan di semester II nanti," katanya. (uli/agt)