ANALISIS

Langkah Kian Berat Jokowi Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 13:29 WIB
Langkah Kian Berat Jokowi Capai Target Pertumbuhan Ekonomi Ilustrasi pertumbuhan. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen dan kuartal II 5,05 persen. Dengan realisasi tersebut, pertumbuhan ekonomi selama semester I 2019 ekonomi domestik hanya melaju 5,06 persen.

Laju ekonomi pada semester I 2019 lebih lamban dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tercatat, laju ekonomi sepanjang semester I 2018 mencapai 5,16 persen. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 mengalami anomali.

Dorongan momentum dari pemilihan umum, ramadan serta lebaran tak kuasa mendorong lajunya lebih cepat dari tiga bulan pertama tahun ini. Padahal, selama periode 2016-2018, pertumbuhan ekonomi kuartal II tak pernah lebih rendah kuartal I karena momennya selalu bersamaan dengan ramadan dan perayaan lebaran.


Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengungkapkan sebenarnya dari sisi konsumsi momentum perayaan ramadan dan lebaran masih memberikan angin segar pada pertumbuhan.

Secara tahunan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih mencapai 5,17 persen secara tahunan sepanjang April-Juni. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan kuartal I 2019 yang tercatat 5,02 persen dan naik tipis dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,16 persen.

Dengan angka pertumbuhan tersebut, konsumsi rumah tangga menopang 55,79 persen pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 yang sebesar 5,05 persen.

"Konsumsi rumah tangga tetap solid, didukung oleh faktor musiman hari raya dan tunjangannya, tercermin dari penjualan ritel yang solid dan terjaganya inflasi," ujar Josua kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/8).

Kendati demikian, sambung ia, laju investasi yang menopang sekitar sepertiga perekonomian belum pulih. Akibatnya, laju perekonomian tertahan.
[Gambas:Video CNN]
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) yang merupakan indikator investasi hanya tumbuh 5,01 persen atau melemah jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mampu tumbuh 5,85 persen.

Perlambatan pertumbuhan investasi dipicu oleh penurunan penjualan semen yang hanya tumbuh 5,46 persen secara tahunan dari sebelumnya 5,48 persen. Hal ini terjadi akibat perlambatan pengeluaran investasi bangunan.

Di sisi lain, peningkatan belanja modal untuk mesin dan peralatan mampu menahan perlambatan investasi dengan tumbuh 9,97 persen, lebih cepat dari periode sebelumnya yang hanya sebesar 8,46 persen.

"Sebagai tambahan, pemilu kemungkinan memberikan dampak negatif pada realisasi investasi pada kuartal II 2019," ujarnya.

Selain investasi, kegiatan ekspor dan impor juga masih terkontraksi masing-masing sebesar 1,86 persen dan 6,73 persen. Kondisi ini tak lepas dari perlambatan perekonomian global.

Dari sisi lapangan usaha, sektor manufaktur yang bisa menunjang kinerja ekspor dan impor masih berada pada tren pertumbuhan yang melandai.

Pada kuartal II 2019, industri manufaktur hanya mampu tumbuh 3,54 persen, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yang sebesar 3,88 persen. Meski masih tetap yang terbesar, kontribusi industri manufaktur terhadap pertumbuhan ekonomi menciut dari 19,8 persen menjadi 19,52 persen.

BPS mencatat penurunan permintaan luar negeri dan domestik menekan industri karet, barang dari karet dan plastik.

Namun, industri tekstil dan pakaian jadi masih tumbuh signifikan karena ditopang oleh kenaikan produksi di beberapa sentra produksi tekstil dan pakaian jadi.

Melihat hal itu, Josua memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya akan berkisar 5,05 hingga 5,15 persen atau lebih rendah dari tahun lalu yang mencapai 5,17 persen.

Josua memprediksi penggerak konsumsi di kuartal III dan IV tahun ini tak akan sebesar tahun lalu di mana ada penyelenggaraan ASEAN Games.

Namun, laju investasi akan mulai pulih pada sisa enam bulan terakhir. Melihat pertumbuhan ekonomi yang menciut pada semester I 2019, Josua menilai masih ada ruang bank sentral untuk melakukan pelonggaran moneter.

Jika dilakukan, hal itu bisa mendorong belanja dan menekan biaya pembiayaan investasi. "Namun demikian, kebijakan ekspansi fiskal juga dibutuhkan untuk mendukung iklim investasi dan meningkatkan daya beli," tuturnya.

Senada dengan Josua, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini di bawah target pemerintah, 4,9 hingga 5,12 persen.

"Prediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12 persen itu paling optimistis," ujarnya.

Menurut Fithra kecenderungan 'wait and see' investor dan geliat industri yang tertahan dampaknya lebih besar dibandingkan dorongan dari momentum lebaran terhadap perekonomian.

"Jadi wajar saja kalau pertumbuhan ekonomi kuartal II tidak setinggi kuartal II tahun lalu," ujarnya.

Meski konsumsi rumah tangga secara keseluruhan masih solid, konsumsi 20 persen masyarakat golongan teratas masih cenderung tertahan. Pasalnya, sambung ia, masyarakat golongan tersebut relatif terdidik sehingga bakal menahan konsumsinya sebagai respons atas ketidakpastian.

Dari sisi eksternal, variabel ketidakpastian akibat perkembangan perang dagang lebih mempengaruhi pasar. Sementara, penurunan suku bunga acuan AS dampaknya tak terlalu besar karena sudah diperkirakan pasar. "Karenanya, pertumbuhan ekonomi global mengkerut," ujarnya.

Pada kuartal III dan IV, Fithra memperkirakan tak akan tumbuh signifikan dibandingkan tahun lalu karena tidak ada faktor pendorong khusus. Namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, belanja pemerintah akan mengalami percepatan di tiga bulan terakhir tahun ini.

Menurut Fithra, untuk mempercepat laju ekonomi, pemerintah harus segera membenahi masalah rendahnya produktivitas domestik. Dengan produktivitas yang tinggi diharapkan bisa mendorong investasi, kinerja industri manufaktur dan ekspor. (agt)