Rupiah Jadi Korban 'Perang' Mata Uang AS-China

CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 16:37 WIB
Rupiah Jadi Korban 'Perang' Mata Uang AS-China Ilustrasi yuan China dan dolar AS. (REUTERS/Petar Kujundzic).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.276 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Selasa (6/8) sore. Rupiah melemah 0,15 persen dibandingkan penutupan pada Senin (5/8) yakni Rp14.268 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.344 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin, yakni Rp14.231 per dolar AS. Hari ini, rupiah bergerak di dalam rentang Rp14.260 hingga Rp14.359 per dolar AS.

Sore hari ini, pergerakan mata uang utama Asia bervariasi pada hari ini. Ada yang melemah, seperti rupee India sebesar 0,01 persen, peso Filipina melemah 0,24 persen, ringgit Malaysia melemah 0,31 persen, dan yen Jepang melemah 0,44 persen.

Di sisi lain, won Korea Selatan menguat 0,01 persen, dolar Hong Kong menguat 0,17 persen, baht Thailand menguat 0,2 persen, dolar Singapura menguat 0,25 persen, dan yuan China menguat 0,33 persen.

Pergerakan mata uang negara maju juga terbilang bervariasi. Euro melemah 0,03 persen, sedangkan dolar Australia menguat 0,54 persen, dan poundsterling Inggris menguat 0,28 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah kali ini disebabkan karena perang dagang antara AS dan China yang kian memanas. China sengaja melemahkan nilai tukarnya sebagai bentuk balasan atas tarif impor yang rencananya dilakukan Presiden AS Donald Trump.

"Kini perang dagang sepertinya sudah naik kelas, bertransformasi menjadi perang mata uang. Jika praktik yang dilakukan China ditiru oleh negara lain demi menggenjot ekspor, maka akan terjadi devaluasi mata uang secara kompetitif," jelas Ibrahim, Selasa (6/8).

Gara-gara hal ini, tadinya rupiah sempat masuk ke zona 14.300 per dolar AS. Namun, rupiah menguat karena ada intervensi BI di pasar valas dan obligasi negara melalui pasar Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF).

"Lalu, survei konsumen BI pada Juli 2019 mengindikasikan kepercayaan konsumen tetap terjaga, di mana Indeks Keyakinan Konsumen tetap berada pada level optimis, yaitu sebesar 124,8, meski lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 126,4," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]


(glh/bir)