Menguat Pagi Hari, Risiko Perang Dagang Masih Bayangi Rupiah

CNN Indonesia | Rabu, 07/08/2019 09:06 WIB
Menguat Pagi Hari, Risiko Perang Dagang Masih Bayangi Rupiah Ilustrasi mata uang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.258 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Rabu (7/8) pagi. Angka itu menguat 0,13 persen dibandingkan penutupan pada Selasa (6/8) yakni Rp14.276 per dolar AS.

Pagi hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand menguat 0,01 persen, ringgit Malaysia menguat 0,02 persen, dolar Singapura menguat 0,09 persen, yen Jepang menguat 0,17 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,17 persen.

Sementara itu, di kawasan Asia, hanya dolar Hong Kong dan peso Filipina saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai masing-masing 0,01 persen dan 0,05 persen. Mata uang negara maju juga mengalami penguatan terhadap dolar AS, seperti euro sebesar 0,08 persen, poundsterling Inggris sebesar 0,11 persen, dan dolar Australia sebesar 0,2 persen.



Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan rupiah mendapat angin segar setelah kepla The Fed St. Louis James Bullard mendukung pemangkasan suku bunga acuan Fed Rate sekali lagi. Hanya saja, tentu itu harus sesuai dengan data perekonomian AS.

Meski menguat di pagi hari, ia menyebut rupiah masih berpeluang melemah hari ini. Sebab, pasar masih mengkhawatirkan balas membalas antara AS dan China di dalam perkembangan perang dagang, meski China sudah meredam isu penggunaan yuan sebagai senjata untuk perang dagang.

"Jadi nilai tukar rupiah kemungkinan bergerak di kisaran Rp14.270 hingga Rp14.400 per dolar AS," jelas Ariston, Rabu (7/8).

(glh/lav)