Rupiah Menguat ke Posisi Rp14.225 per Dolar AS

CNN Indonesia | Rabu, 07/08/2019 17:33 WIB
Rupiah Menguat ke Posisi Rp14.225 per Dolar AS Ilustrasi dolar AS. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah tercatat di posisi Rp14.225 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Rabu (7/8) sore. Rupiah menguat 0,36 persen dibandingkan kemarin, yakni Rp14.268 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.275 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin, yakni Rp14.344 per dolar AS. Hari ini rupiah bergerak di kisaran Rp14.215 hingga Rp14.292 per dolar AS.

Sore hari ini, pergerakan mata uang Asia bervariasi. Terdapat mata uang yang menguat, seperti rupee India sebesar 0,05 persen, won Korea Selatan 0,05 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,11 persen, dan yen Jepang sebesar 0,23 persen.

Kemudian, terdapat pula mata uang yang menguat, seperti dolar Hong Kong sebesar 0,03 persen, dolar Singapura sebesar 0,09 persen, baht Thailand sebesar 0,3 persen, dan peso Filipina sebesar 0,54 persen.

Di sisi lain, mata uang negara maju melemah terhadap dolar AS. Euro melemah 0,09 persen, poundsterling Inggris melemah 0,1 persen, dan dolar Australia melemah 0,53 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan penguatan rupiah disebabkan karena pelaku pasar sedikit lega dengan progres kesepakatan perang dagang AS dan China, seiring tercapainya kesepakatan pertemuan di Washington DC pekan depan.

Kemudian, masalah perang mata uang pun ternyata juga tak terbukti setelah nilai tukar yuan terhadap dolar AS kembali menguat.
[Gambas:Video CNN]
"Ini semua terjadi karena akhir pekan lalu AS menebar ancaman akan menerapkan bea masuk 10 persen bagi importasi produk asal China senilai US$300 miliar. Hanya saja, balasan China ternyata lebih pedih," jelas Ibrahim, Rabu (7/8).

Kemudian dari dalam negeri, BI mencatat cadangan devisa Juli 2019 sebesar US$125,9 miliar atau meningkat US$2,1 miliar dibanding bulan sebelumnya yakni US$123,8 miliar.

"BI menjelaskan, peningkatan cadangan devisa pada Juli 2019 terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa migas dan valas lainnya, serta penarikan utang luar negeri pemerintah," terang Ibrahim.


(glh/bir)