Rizal Ramli Ramal Ekonomi 2019 Anjlok ke Level 4,5 Persen

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 15:11 WIB
Rizal Ramli Ramal Ekonomi 2019 Anjlok ke Level 4,5 Persen Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan berada di level 4,5 persen di 2019 ini. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli meramalkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan berada di level 4,5 persen. Ini artinya, ekonomi dalam negeri akan melambat ketimbang 2018 lalu yang masih tumbuh 5,17 persen.

Perkiraan tersebut jauh lebih rendah dibanding proyeksi Morgan Stanley. Dalam riset yang dikutip CNNIndonesia, awal pekan ini, lembaga tersebut memang memperkirakan ekonomi Indonesia akan melambat tahun ini.

Tapi mereka memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di kisaran 5 persen. 
Rizal mengatakan proyeksi pertumbuhan 4,5 persen dibuatnya karena mayoritas indikator makro ekonomi Indonesia terlihat negatif. Salah satunya, transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang semakin defisit.


Pada kuartal II 2019, defisit mencapai US$8,4 miliar atau 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). 
Angka defisit itu membengkak hingga 21 persen dari kuartal I 2019 yang hanya US$6,97 miliar.

Jika diakumulasi, defisit transaksi berjalan periode April-Juni 2019 melebar 6,2 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$7,95 miliar.

"Saya ingin mengatakan bahwa ekonomi Indonesia akan 'nyungsep' paling hanya 4,5 persen. Pemerintah Indonesia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan 5,2 persen, tapi data terakhir saja sudah 5 persen. Ini akan anjlok terus ke 4,5 persen," ungkap Rizal, Senin (12/8).

Defisit transaksi berjalan yang melebar, kata Rizal, juga tak lepas dari jumlah ekspor yang terus menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Juni 2019 anjlok 20,54 persen dibanding bulan sebelumnya yakni US$14,83 miliar. Sementara secara tahunan, ekspor turun 8,98 persen.

Kemudian, nilai impor menurun sebesar 20,7 persen dari US$14,61 miliar menjadi US$11,58 miliar. Secara keseluruhan, neraca dagang sebenarnya surplus pada Juni sebesar US$200 juta, tetapi angkanya hampir sama dengan periode sebelumnya.
[Gambas:Video CNN]
"Neraca perdagangan tidak bagus, memang bisa disalahkan faktor eksternal perang dagang. Tapi negara lain bisa memanfaatkan perang dagang, kalau Indonesia belum," jelas Rizal.

Di tengah kondisi seperti ini, ia menilai kebijakan yang diambil pemerintah belum optimal. Masalahnya, pemerintah justru terkesan fokus untuk menarik pajak dari masyarakat kelas menengah ke bawah dibandingkan dengan menengah ke atas.

"Pemerintah malah fokus sama pajak-pajak kecil seperti ke pengusaha pempek misalnya, pecel. Harusnya kurangi pajak untuk pedagang menengah ke bawah agar kalau krisis ada bantalannya," ujar Rizal.

Di sisi lain, pemerintah juga menawarkan bunga obligasi yang tinggi dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, dan Filipina. Padahal, peringkat utang ketiga negara itu lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia.

"Harusnya kalau menerbitkan obligasi negara itu lebih rendah dari Vietnam, Thailand, dan Filipina. Tapi Indonesia selalu lebih tinggi 1,5 persen. Ini kan menambah utang hampir sepertiga," jelas dia.

Bila ekonomi terus melambat, transaksi berjalan semakin defisit, dan kebijakan pajak tak diubah, Rizal memprediksi Indonesia akan kembali mengalami krisis tahun depan. (aud/agt)