Perkiraan tersebut jauh lebih rendah dibanding proyeksi Morgan Stanley. Dalam riset yang dikutip CNNIndonesia, awal pekan ini, lembaga tersebut memang memperkirakan ekonomi Indonesia akan melambat tahun ini.
Tapi mereka memperkirakan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh di kisaran 5 persen. Rizal mengatakan proyeksi pertumbuhan 4,5 persen dibuatnya karena mayoritas indikator makro ekonomi Indonesia terlihat negatif. Salah satunya, transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang semakin defisit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Defisit transaksi berjalan yang melebar, kata Rizal, juga tak lepas dari jumlah ekspor yang terus menurun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Juni 2019 anjlok 20,54 persen dibanding bulan sebelumnya yakni US$14,83 miliar. Sementara secara tahunan, ekspor turun 8,98 persen.
Kemudian, nilai impor menurun sebesar 20,7 persen dari US$14,61 miliar menjadi US$11,58 miliar. Secara keseluruhan, neraca dagang sebenarnya surplus pada Juni sebesar US$200 juta, tetapi angkanya hampir sama dengan periode sebelumnya.
[Gambas:Video CNN]
"Neraca perdagangan tidak bagus, memang bisa disalahkan faktor eksternal perang dagang. Tapi negara lain bisa memanfaatkan perang dagang, kalau Indonesia belum," jelas Rizal.
Di tengah kondisi seperti ini, ia menilai kebijakan yang diambil pemerintah belum optimal. Masalahnya, pemerintah justru terkesan fokus untuk menarik pajak dari masyarakat kelas menengah ke bawah dibandingkan dengan menengah ke atas.
"Pemerintah malah fokus sama pajak-pajak kecil seperti ke pengusaha pempek misalnya, pecel. Harusnya kurangi pajak untuk pedagang menengah ke bawah agar kalau krisis ada bantalannya," ujar Rizal.
Di sisi lain, pemerintah juga menawarkan bunga obligasi yang tinggi dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, dan Filipina. Padahal, peringkat utang ketiga negara itu lebih rendah dibandingkan dengan Indonesia.
Bila ekonomi terus melambat, transaksi berjalan semakin defisit, dan kebijakan pajak tak diubah, Rizal memprediksi Indonesia akan kembali mengalami krisis tahun depan. (aud/agt)