Rizal Ramli: 24 Perusahaan 'Zombie' di BEI Picu Krisis 2020

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 15:42 WIB
Rizal Ramli: 24 Perusahaan 'Zombie' di BEI Picu Krisis 2020 Ekonom, sekaligus eks Menteri Koordinator Perekonomian, Rizal Ramli. (CNN Indonesia/Gautama Padmacinta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Eks Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli menyebut hampir seperempat perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi salah satu faktor yang dapat memicu krisis tahun depan. Pasalnya, sebanyak 24 persen emiten tersebut perusahaan 'zombie' lantaran hanya mengandalkan sistem pembiayaan kembali (refinancing).

Ia menjelaskan jumlah perusahaan zombie itu berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Nikkei Asian Review baru-baru ini. Menurutnya, sejumlah emiten tak mampu menutup utangnya dari laba dan pendapatan, sehingga terpaksa terus melakukan refinancing.

"Itu perusahaan zombie, perusahaan yang untuk bayar bunganya saja harusnya dari keuntungan bisa, tapi ini tidak," tegas Rizal, Senin (12/8).

Jika perusahaan terus melakukan refinancing, maka jumlah utang semakin menumpuk. Ia menilai kinerja keuangan perusahaan terkait akan sulit meningkat lantaran kondisi makro ekonomi juga tak kunjung membaik.

"Kebanyakan sektor properti, penjualan jatuh. Tapi bunga jalan terus," imbuh dia.

Ia juga mencontohkan kinerja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang masih saja merugi. Mengutip laporan keuangan yang dilaporkan ke BEI, rugi bersih perusahaan per semester I 2019 meningkat menjadi US$134,95 juta dari periode yang sama tahun lalu US$16,01 juta.

"Ini juga karena banyak baja impor, banyak baja China yang lebih murah daripada baja nasional," katanya.

Sementara, daya beli di dalam negeri juga belum sepenuhnya membaik. Rizal menilai belum ada insentif yang diberikan oleh pemerintah untuk menggenjot kemampuan beli masyarakat.

"Seharusnya tingkatkan daya beli rakyat kecil, berikan stimulus. Misalnya dengan pajak untuk pedagang kelas menengah ke bawah," tuturnya.

Sejauh ini, pemerintah justru memberatkan kelas menengah ke bawah, misalnya dengan fokus mengejar pajak dari pedagang mpek-mpek. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi juga melambat menjadi 5,05 persen per kuartal II 2019 dari posisi kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen.

Selain itu, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga membengkak pada pada kuartal II 2019 mencapai US$8,4 miliar atau 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal I 2019, nilai defisitnya hanya US$6,97 miliar.

Jika diakumulasi, defisit transaksi berjalan periode April-Juni 2019 melebar 6,2 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$7,95 miliar.

"Kondisi makro ekonominya diprediksi pertumbuhan ekonomi anjlok ke 4,5 persen, macam-macam bisulnya mulai kelihatan semua, kalau meledak terjadilah krisis yang sesungguhnya," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN]


(aud/bir)