Ia menjelaskan jumlah perusahaan zombie itu berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh Nikkei Asian Review baru-baru ini. Menurutnya, sejumlah emiten tak mampu menutup utangnya dari laba dan pendapatan, sehingga terpaksa terus melakukan refinancing.
"Itu perusahaan zombie, perusahaan yang untuk bayar bunganya saja harusnya dari keuntungan bisa, tapi ini tidak," tegas Rizal, Senin (12/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini juga karena banyak baja impor, banyak baja China yang lebih murah daripada baja nasional," katanya.
Sementara, daya beli di dalam negeri juga belum sepenuhnya membaik. Rizal menilai belum ada insentif yang diberikan oleh pemerintah untuk menggenjot kemampuan beli masyarakat.
"Seharusnya tingkatkan daya beli rakyat kecil, berikan stimulus. Misalnya dengan pajak untuk pedagang kelas menengah ke bawah," tuturnya.
Selain itu, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga membengkak pada pada kuartal II 2019 mencapai US$8,4 miliar atau 3 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Pada kuartal I 2019, nilai defisitnya hanya US$6,97 miliar.
Jika diakumulasi, defisit transaksi berjalan periode April-Juni 2019 melebar 6,2 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$7,95 miliar.
"Kondisi makro ekonominya diprediksi pertumbuhan ekonomi anjlok ke 4,5 persen, macam-macam bisulnya mulai kelihatan semua, kalau meledak terjadilah krisis yang sesungguhnya," pungkasnya.
[Gambas:Video CNN] (aud/bir)