Singapura Pangkas Prospek Pertumbuhan Ekonomi jadi 0 Persen

CNN Indonesia | Selasa, 13/08/2019 15:49 WIB
Singapura Pangkas Prospek Pertumbuhan Ekonomi jadi 0 Persen Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Singapura. (REUTERS/Edgar Su).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perang dagang AS-China membuat negara-negara di dunia gigit jari. Tak Terkecuali Singapura. Bahkan, Negeri Jiran ini memangkas prospek pertumbuhan ekonominya menjadi 0 persen-1,0 persen dari proyeksi sebelumnya 1,5 persen-2,5 persen.

Mengutip AFP, Selasa (13/8), Singapura pesimis ekonominya bisa tumbuh pada tahun ini karena meningkatnya tensi perang dagang. Perang dagang itu diperkirakan menahan laju ekspor Singapura.

Revisi prospek ekonomi Singapura ini merupakan kedua kalinya pada tahun ini, setelah mencatat pertumbuhan pada tahun lalu, yakni 3,2 persen.

Menurut Pemerintah Singapura, ekspor sangat sensitif terhadap guncangan eksternal. Padahal, Singapura merupakan pintu pertama perdagangan di antara negara-negara Asia.

Disebutkan, pengiriman barang telah jatuh dari kuartal ke kuartal, yang paling mengejutkan terjadi pada kuartal II 2019.

"Prospek pertumbuhan pasar negara berkembang dan China telah memburuk, sebagian karena meningkatnya konflik perdagangan AS-China," ujar Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Lim Hng Kiang.

Menurut dia, ketidakpastian dan risiko perlambatan ekonomi global terus meningkat sejak tiga bulan terakhir.

Terakhir, Presiden AS Donald Trump menegaskan perundingan dagang dengan China belum akan menemui kesepakatan. Trump menyatakan akan mematok tarif tambahan 10 persen untuk barang-barang impor China senilai US$300 miliar.

"Ini bisa sangat merusak bisnis global dan kepercayaan global, dengan implikasi yang merugikan perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi global," terang dia.

Singapura sebelumnya mengaku terpukul dengan jatuhnya permintaan barang-barang elektronik, ekspor vital bagi sektor manufaktur.

DBS Bank menuturkan prospek ekonomi yang dipangkas membuat Singapura harus melonggarkan kebijakan moneternya. Tujuannya, demi merangsang ekonomi.
[Gambas:Video CNN]


(AFP/bir)