Laba BRI Tumbuh Lebih Lambat pada Semester I 2019

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 12:56 WIB
Laba BRI Tumbuh Lebih Lambat pada Semester I 2019 Direktur Utama BRI Suprajarto. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) membukukan laba bersih sebesar Rp16,16 triliun pada semester I 2019. Laba itu naik 8,19 persen dari sebelumnya sebesar Rp14,93 triliun.

Pertumbuhan laba ditopang kontribusi kenaikan pendapatan bunga bersih (Net Intersert Income/NII) sebesar 4,36 persen dari Rp38,25 triliun menjadi Rp39,92 tiliun. Selain itu, pertumbuhan laba juga disebabkan kenaikan pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) sebesar 17,86 persen dari Rp10,28 triliun menjadi Rp12,11 triliun. 

Namun, laba itu tumbuh melambat dari periode yang sama 2018 lalu sekitar 10,78 persen. Direktur Utama BRI Suprajarto mengatakan perlambatan pertumbuhan laba dipicu kinerja anak perusahaan yang diakuisisi perseroan pada tahun lalu, yakni Danareksa Sekuritas.


Kinerja anak usaha tersebut belum maksimal. Agar kinerja kurang menggembirakan tersebut bisa diatasi, ia bilang perseroan telah menyiapkan langkah pembenahan sehingga diharapkan masalah pada anak usaha dapat diselesaikan akhir tahun.

"Untuk beberapa anak usaha kami sedang melakukan pembenahan. Kami sedang benahi, sedang kami bersihkan. Kami ingin tahun ini selesai semuanya sehingga tidak ada lagi beban di tahun depan," katanya, Rabu (14/8).

Ia meyakini dengan pembenahan tersebut, laba perusahaan dengan kode saham BBRI itu bisa tumbuh dua digit kurang lebih sebesar 12 persen pada akhir tahun ini.  

Selain penurunan pertumbuhan laba, perseroan juga mengalami perlambatan margin bunga bersih (Net Interest margin/NIM) dari 7,64 persen menjadi 7,02 persen. Suprajarto menuturkan penurunan NIM disebabkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRRR) sebanyak enam kali sepanjang, sehingga meningkatkan beban biaya dana (cost of fund).

"Kalau NIM turun memang dampak kemarin BI menaikkan BI 7-DRRR sampai enam kali meskipun dalam semester sudah menurunkan tapi dampak enam kali itu luar biasa bagi biaya bunga kami dan otomatis cost of fund menjadi naik," katanya.

Suprajarto menjelaskan pertumbuhan penyaluran kredit juga menopang peningkatan laba. Hingga Juni 2019, pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 11,84 persen dari Rp 794,3 triliun di semester I 2018 menjadi Rp888,32 triliun.

Penyaluran kredit didominasi pertumbuhan kredit segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebesar 13,07 persen dari Rp602,72 triliun menjadi Rp681,5 triliun. Jumlah tersebut setara dengan 76,72 persen porsi penyaluran kredit BRI.

"Kami targetkan di tahun 2022 komposisi penyaluran kredit UMKM BRI mencapai 80 persen dari total portofio kredit BRI," tuturnya.

BRI menyalurkan kredit UMKM melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hingga Juni 2019, BRI tercatat menyalurkan KUR sebesar Rp50,29 triliun kepada lebih dari 1,2 juta debitur. Penyaluran itu setara dengan 57,8 persen dari target yang diberikan pemerintah sebesar Rp86,97 triliun di 2019.
[Gambas:Video CNN]
Kenaikan kredit memicu pertumbuhan aset sebesar 11,7 persen dari Rp1.153 triliun menjadi Rp1.288,2 triliun. Lalu, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 12,78 persen dari Rp838 triliun menjadi Rp945,05 triliun.

Akan tetapi, pertumbuhan kredit tak diimbangi dengan perbaikan kualitas kredit. Tercatat Non Performing Loan (NPL) secara gross naik dari 2,33 persen menjadi 2,51 persen. Ia bilang menurunnya kualitas kredit dipicu kinerja anak usaha. Namun, tahun ini ia meyakini kualitas kredit akan membaik di kisaran 2 persen.

"Semua anak usaha, kami tidak mau lagi ada yang disembunyikan NPL nya. Tahun kami sudah lakukan simulasi mereka juga bisa memberikan kontribusi pada akhir tahun nanti," katanya. (ulf/agt)