Lima Negara Raksasa Dunia Berisiko Resesi Ekonomi

CNN Indonesia | Kamis, 15/08/2019 14:52 WIB
Lima Negara Raksasa Dunia Berisiko Resesi Ekonomi Ilustrasi 20 pemimpin negara dengan ekonomi terbesar dunia. (REUTERS/Kevin Lamarque).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lima negara dengan ekonomi raksasa di dunia berisiko mengalami resesi ekonomi. Kelima negara itu antara lain, Jerman, Inggris, Italia, Brasil, dan Meksiko.

Resesi ekonomi biasanya didefinisikan sebagai kontraksi pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada dua kuartal berturut-turut.

Kelima negara tersebut termasuk dalam 20 negara dengan ekonomi terbesar di dunia, atau biasa dikenal dengan G20. Potensi resesi ekonomi kemungkinan akan menggeser peringkat kelima negara di posisi lebih rendah.


Di Asia, Singapura dan Hong Kong juga mengalami hantaman dari sisi domestik. Meski kedua negara memiliki kapasitas ekonomi lebih kecil dari kelima negara di atar, namun memiliki fungsi krusial sebagai pasar keuangan dan perdagangan global.

Data pemerintah pada Rabu(15/8) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jerman, negara berperingkat ekonomi terbesar keempat di dunia, mengalami kontraksi pada tiga bulan kedua tahun ini.

"Intinya bahwa ekonomi Jerman tertatih-tatih di tepi resesi," kata Kepala Ekonom Capital Economics Wilayah Eropa Andrew Kenningham seperti dikutip CNN, Kamis (15/8).

Carsten Brzeski, Kepala Ekonom Belanda ING menilai Jerman sangat bergantung pada eksportir yang menjual barang dengan jumlah tidak proporsional ke China dan Amerika Serikat (AS). Penjualan mobil global Lackluster juga melanda produsen mobilnya.

"Laporan PDB (produk domestik bruto) hari ini jelas menandai akhir dekade emas bagi ekonomi Jerman," kata Brzeski.

Ketika kekhawatiran keluarnya Inggris dari Eropa (British Exit/Brexit) membantu menyeret ekonomi Jerman, hal itu malah menjadi penyebab paling menyakitkan bagi Inggris. Pertumbuhan ekonomi Negeri Ratu Elizabeth itu menyusut pada kuartal II 2019, untuk pertama kalinya sejak 2012.

Inggris disebut-sebut harus pulih pada kuartal ketiga untuk menghindari resesi langsung. Namun, jika Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menarik negara itu keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan untuk melindungi perdagangan pada tanggal 31 Oktober, resesi kemungkinan tidak akan terhindarkan.

Masih di Eropa, pertumbuhan ekonomi Italia melandai pada kuartal II 2019. Berdasarkan data pemerintah, produktivitas Negeri Pizza melemah, pengangguran kaum muda tinggi, utang meningkat, dan kekacauan politik yang harus disalahkan atas kelesuan ekonomi tersebut.

Sementara itu, Meksiko baru saja menghindari resesi, meski ekonomi diperkirakan akan tetap melemah tahun ini. Investasi Meksiko tercatat menurun, sedangkan sektor jasa berada di bawah tekanan.

Data pemerintah Brasil juga menunjukkan bahwa ekonomi Negeri Samba tergelincir ke dalam resesi pada kuartal kedua. Ekonomi terbesar di Amerika Latin mengalami penurunan produksi, disertai pengangguran yang tinggi.

Pertumbuhan ekonomi masing-masing negara terseret ke level lebih rendah karena sejumlah faktor. Beberapa di antaranya ialah kemerosotan manufaktur global dan penurunan kepercayaan bisnis tajam yang memperburuk keadaan.
[Gambas:Video CNN]
Ekonomi raksasa China tumbuh pada laju paling lambat dalam hampir tiga dekade. Penyebab utamanya tak lain adalah aksi perang dagang yang berkepanjangan dengan Amerika Serikat (AS). Negeri Paman Sam diketahui bakal mengenakan pajak baru pada ekspor China per September dan Desember 2019.

"Fitur umum adalah latar belakang global yang lemah," kata Kepala Ekonom Capital Economics Neil Shearing.

Bulan lalu, Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi hanya 3,2 persen, berada pada tingkat ekspansi terlemah sejak 2009. Ia juga menurunkan ekspektasi untuk 2020 menjadi 3,5 persen. (CNN/lav)