Ekonomi RI Tertahan Konsumsi dan Gejolak Ekonomi Global

CNN Indonesia | Selasa, 06/08/2019 19:25 WIB
Ekonomi RI Tertahan Konsumsi dan Gejolak Ekonomi Global Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2019 lebih dipicu oleh konsumsi yang tertahan kondisi politik domestik disertai iklim ekonomi global yang sedang tak kondusif.

Aksi dan reaksi antara Amerika Serikat (AS) dan China dalam perang dagang kedua negara memberi sentimen negatif terhadap ekonomi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2019 melambat dibanding kuartal I 2019, yaitu dari 5,07 persen menjadi 5,05 persen. Secara tahunan, laju ekonomi melambat dibanding periode yang sama tahun lalu yakni, 5,27 persen.


Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan tren konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang untuk perekonomian domestik karena masih bertumbuh cukup baik. Tren konsumsi rumah tangga ini terbilang stagnan pada kuartal I dan II.

"Tapi mungkin konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama (pertumbuhan ekonomi) sebenarnya. Jadi kalau kita lihat ini hampir sekitar 55 persen lebih, 55,8 persen itu masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga," ujar Josua kepada CNNIndonesia.com, Selasa (6/8).

Selain itu, Josua mengatakan perang dagang antara AS dan China selama setahun terakhir ini menyebabkan ekspor menurun. Penurunan ini memberikan dampak, khususnya terhadap sektor komoditas yang merupakan penopang ekspor terbesar bagi Indonesia.

Serta ada komponen lain, sambung Josua, yaitu pada sektor investasi khususnya swasta terlihat melambat hal ini disebabkan momentum pemilihan umum dan berbagai macam acara politik pada saat kuartal II kemarin. Dengan demikian, para investor menjadi wait and see dan membuat investasi cenderung melambat.

"Kinerja ekspor kita masih tetap terjaga harusnya tidak sampai melambat di kuartal kedua ini, tapi karena bahwa pengaruh global dan juga investasi masih wait and see itu membuat investasi gak optimal jadi ekspor mengerek ke bawah," turur Josua

Oleh karena itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kuartal selanjutnya seperti memperkuat dan mengelola konsumsi domestik Indonesia agar konsumsi rumah tangga tetap di atas 50 persen.

Kemudian, mengelola konsumsi rumah tangga sehingga inflasi tetap terkendali dan nilai tukar tetap stabil. Serta mendorong terciptanya lapangan kerja sehingga pendapatan di masyarakat meningkat dan akan berdampak pada peningkatan konsumsi rumah tangga Indonesia.

Selanjutnya, peningkatan dalam menjaga implementasi agar tetap baik hal ini bertujuan untuk mendorong perkembangan dari sektor investasi.

"Kalau dari sisi investasi ini cenderung lebih cepat di atas 6 persen saya kira dampaknya akan sangat signifikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kita," jelasnya.

Di tengah perang dagang antara Amerika Serikat dan China, Josua menjelaskan upaya yang bisa dilakukan adalah pemerintah yaitu dapat menahan barang impor yang tidak produktif.

"Akhirnya kinerja dari pertumbuhan ekonomi kita melambat sehingga tidak berkontribusi terhadap pertumbuhan. Jadi sebenarnya langkah-langkah yang kita dorong kita memberikan insentif untuk investasi. Itu yang sebenarnya harus didorong. Selain menjaga daya beli masyarakat," jelasnya.

Lebih lanjut, Josua berharap untuk pertumbuhan ekonomi pada kuartal selanjutnya akan lebih membaik jika dilihat dari sektor investasi. Hal ini karena faktor dari pemilu sudah berakhir sehingga para investor lebih optimis lagi.

"Saya cenderung mengatakan bahwa investasi akan lebih baik di semester ketiga bahwa apalagi pemerintah baru yang akan segera menjalankan tugasnya di 5 tahun berikutnya," tutur Josua.

Sama seperti Josua, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual juga menyatakan bahwa adanya perang dagang antara Amerika dan China sangat berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang melambat pada kuartal kedua.

Ia juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga juga tetap melambat jika permintaan global masih menurun.

"Permintaan dari China, perang dagang itu membuat ekspor kita melambat. Jadi saya lihat masih sepertinya akan berlanjut di kuartal ketiga. Apalagi ada sanksi berupa kenaikan tarif lagi oleh Presiden Trump," ujar David.

Kendati demikian, solusi yang dikatakan David untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk kuartal selanjutnya yaitu pemerintah harus mendorong investasi terutama konsumsi, mendorong investasi dari luar negeri serta mengubah reformasi struktural dari kemudahan berbisnis.

"Kemudahan-kemudahan ke mereka (investor) birokrasi diperbaiki dan seterusnya," pungkas David.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2019 hanya 5,05 persen secara tahunan atau melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, 5,27 persen.

[Gambas:Video CNN]

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga konstan (ADHK) pada kuartal kedua tahun ini tercatat Rp2.753 triliun, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu Rp2.603 triliun. Atas dasar harga bruto (ADHB), PDB kuartal II 2019 tercatat Rp3.963, triliun.

"Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I sampai dengan kuartal II 2019 dibandingkan kuartai I sampai dengan kuartal II 2018 tumbuh 5,06 persen," sebutnya dalam konferensi pers, Senin (5/8).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution juga sempat memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 hanya mencapai 5,12 persen.

Proyeksi ini lebih tinggi dari raihan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2019 sebesar 5,07 persen namun lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi kuartal II 2018 sebesar 5,27 persen. (sas/lav)