Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan asumsi makro itu ditetapkan dengan mempertimbangkan risiko perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China yang belum juga selesai. Terlebih, AS akan memberikan tarif tambahan pada produk China senilai US$300 miliar.
"Pergerakan nilai tukar rupiah pada 2020 dipengaruhi faktor risiko ketidakpastian global," ucap Sri Mulyani, Jumat (16/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Logikanya, nilai dolar AS akan semakin mahal jika ekspor tak bertumbuh signifikan. Hal ini lantaran persediaan mata uang itu tak banyak. Akibatnya, rupiah berpotensi melemah.
Sri Mulyani menambahkan rata-rata pergerakan rupiah pada 2015 berada di level Rp13.392 per dolar AS. Kemudian, 2016 sebesar Rp13.307 per dolar AS, dan 2017 sebesar Rp13.384 per dolar AS.
[Gambas:Video CNN] (aud/agt)