Survei: Ekonom Proyeksi Resesi Ekonomi AS pada 2020-2021

CNN Indonesia | Senin, 19/08/2019 12:48 WIB
Survei: Ekonom Proyeksi Resesi Ekonomi AS pada 2020-2021 Presiden AS Donald Trump. (REUTERS/Jacquelyn Martin).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mayoritas ekonom Amerika Serikat (AS) memproyeksi resesi ekonomi Negeri Paman Sam akan terjadi pada tahun depan atau 2021 mendatang. Ekonom yang tergabung dalam National Association for Business Economics (NABE) bahkan menyebut sebagian kecil ekonom memperkirakan resesi ekonomi AS akan dimulai tahun ini juga.

"Responden survei menunjukkan bahwa ekspansi akan diperpanjang oleh perubahan kebijakan moneter," tutur Presiden NABE Constance Hunter, seperti dilansir Reuters, Senin (19/8).

Dalam ringkasan survei, sambung dia, dua dari 226 responden memperkirakan resesi terjadi pada tahun ini juga. 34 persen lainnya mengaku tak melihat resesi setidaknya sampai tahun depan. Sedangkan, 38 persen responden lainnya hampir yakin resesi terjadi tahun depan.

Namun, sebanyak 46 persen responden memproyeksi resesi ekonomi AS baru akan terjadi pada 2021. Mereka ini yang mengharapkan The Fed, bank sentral, memotong bunga acuan AS satu kali lagi pada tahun ini.

Sebab, ekonom-ekonom tersebut pesimis ada titik terang untuk perang dagang AS dengan China. "Meskipun, 64 persen responden mengatakan mungkin saja ada kesepakatan," kata Hunter.

Tapi, harap dicatat, optimisme para ekonom terhadap kesepakatan dagang AS dengan China terjadi sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif tambahan sebesar 10 persen untuk barang impor senilai US$300 miliar dari China. Tarif impor tambahan ini akan berlaku dua tahap, yaitu mulai 1 September dan 15 Desember 2019.

Saat Trump melanjutkan kampanye vokalnya yang mengkritik The Fed, survei NABE merilis kekhawatiran terhadap dampaknya. Sebanyak 55 persen responden bilang pernyataannya tidak mempengaruhi keputusan The Fed.

Namun, lebih dari seperempat reponden khawatir kritik itu akan membuat The Fed menjadi lebih dovish dari sebelumnya. "Karena mengancam independensinya sebagai bank sentral," imbuh dia.
[Gambas:Video CNN]


(AFP/bir)