Pengusaha Minta Bank Tekan Margin Bunga Bersih ke 3,5 Persen

CNN Indonesia | Senin, 26/08/2019 14:40 WIB
Pengusaha Minta Bank Tekan Margin Bunga Bersih ke 3,5 Persen Ilustrasi bunga. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengusaha meminta perbankan untuk menurunkan tingkat margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) ke posisi 3,5 persen. Mereka merasa tingkat NIM perbankan Indonesia  yang berdasarkan data OJK mencapai 4,9 persen per Juni 2019 menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.

Ketua Umum Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani memaparkan tingkat NIM di negara tetangga Asia Tenggara lebih rendah dari Indonesia. Untuk NIM di Singapura misalnya, kurang lebih hanya sebesar 1,3-1,4 persen, Malaysia 1,6-1,7 persen, Vietnam 2,4-2,5 persen, dan Filipina di bawah 3 persen.

Bahkan, negara maju Korea Selatan tingkat NIM sebesar 1,5-1,6 persen.  Sedangkan NIM Indonesia sebesar 4,9 per Juni 2019 berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


"Mungkin perbankan akan keberatan kami bicara seperti ini, tapi kenyataannya kami harus melihat realita, mereka harus efisien," katanya, Senin (26/8).

Menurut dia penurunan tingkat NIM bakal memberikan dampak besar kepada dunia usaha. Pasalnya, dengan tingkat NIM lebih rendah maka suku bunga kredit bisa dipangkas.

Dengan demikian, pelaku usaha lebih leluasa mengembangkan bisnis yang memberikan dampak penciptaan lapangan kerja.

"Bukannya kami ingin mengatur NIM tapi kenyataannya di negara tetangga, tidak ada satu pun yang NIM-nya di atas 3 persen," tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengklaim perbankan telah mengerek turun tingkat NIM dari tahun sebelumnya di rentang 5-6 persen. Menurut dia, ini merupakan hasil sinergi dari BI dan OJK.

"NIM sekarang sudah turun Alhamdulillah kami mengucapkan terima kasih ke Pak Wimboh (Ketua Dewan Komisioner OJK), kami guyub rukun dengan OJK, karena peningkatan efisiensi sudah ada hasilnya," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]
Meski sudah turun, ia menyatakan tingkat NIM perbankan masih berpeluang ditekan. Salah satu upaya penekanan bisa dilakukan dengan melakukan efisiensi di tubuh perbankan.

Efisiensi bisa dilakukan melalui pengembangan Teknologi Informasi (IT).

"Ini masih bisa turun kuncinya adalah meningkatkan efisiensi dalam dunia perbankan," katanya. 

(ulf/agt)