"Kebetulan kita ingin memindahkan ibu kota, jadi akan lebih ideal lagi kalau semuanya berbasis electric (listrik), smart city, dan saya rasa ini akan menjadi satu-satunya ibu kota di dunia yang semuanya harus berkendaraan hybrid atau electric vehicle (ev)," ujar Ketua Umum Kadin Rosan P Roeslani di Menara Kadin, Selasa (27/8).
Menurut Rosan, jika Indonesia berani melakukan terobosan tersebut, seluruh dunia akan memuji. Karenanya, dari sekarang, pemerintah harus menyiapkan infrastruktur kendaraan listrik yang memadai di ibu kota baru. Infrastruktur tersebut antara lain, stasiun pengisian ulang baterai maupun pasokan listriknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Rosan berharap pemerintah bisa mensosialisasikan rencana pemindahan ibu kota tersebut dengan cepat dan transparan ke masyarakat. Dengan demikian, pelaku usaha yang ingin berpartisipasi bisa lebih antusias lagi.
Presiden Jokowi telah mengambil keputusan soal pemindahan ibu kota negara. Dalam pengumuman yang disampaikannya Senin (26/8) ia mengatakan ibu kota negara akan dipindahkan ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian wilayah Kabupaten Kutai Kertanegara.
[Gambas:Video CNN]
Kedua wilayah tersebut berada di Kalimantan Timur. Daerah tersebut dipilih dengan beberapa pertimbangan.
Pertama, karena minim bencana, baik banjir, gempa, tsunami, kebakaran hutan dan gunung berapi. Kedua, lokasi geografis yang strategis.
Jokowi mengatakan dana yang dibutuhkan untuk pemindahan ibu kota tersebut mencapai Rp466 triliun. Tapi kebutuhan dana tersebut tidak akan dipenuhi pemerintah semuanya.
"Yang dari APBN nantinya hanya akan 19 persen," katanya.
Dengan kata lain, pemerintah hanya akan menggelontorkan dana APBN sebesar Rp88 triliun untuk pemindahan ibu kota.