TOP TALKS

'Moncong Putih' Seruduk Triawan Munaf jadi Kepala Bekraf

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 04/09/2019 08:22 WIB
Usir Jenuh Dengan Bikin Kopi Kepala Bekraf Triawan Munaf menjadikan kopi sebagai penghilang suntuk. (Detikcom/Ari Saputra)

Usir Jenuh Dengan Bikin Kopi

Selain soal pemahaman yang masih belum banyak, tantangan lain?

Ada contoh kasus. Misalnya ketika Asian Games lalu, ketika saya harus berkolaborasi dengan kementerian/lembaga lain. Waktu itu kami protes saya. Protes saya itu juga diprotes oleh netizen.

Protes berkaitan dengan  logo Asian Games yang awalnya kurang memenuhi standar internasional. Pada 23 Desember 2017 saya masih ingat, kami datang ke Kemenpora dan bilang 'Tolong itu dibatalkan.'


Lalu saya bilang akan membuat sebuah sayembara di antara graphic designer, bukan sayembara umum untuk membuat logo. Untungnya Pak Menpora (Imam Nahrawi) mau. Dia bilang saya tidak tahu soal ini Pak, jadi ya silahkan.

Berbekal persetujuan itu, akhirnya saya membentuk sebuah kepanitiaan. Kami undang para graphic designer untuk mendaftarkan diri.  Dan ternyata betul, akhirnya kami dapat hasil, Energy of Asia. Itu buatan saya pribadi.

Tapi logonya, tone of colours-nya, maskot yang luar biasa itu. Itu mewarnai sebelum Asian Games, sampai sekarang masih dikenang.

Nah dari situ semua baru sadar, betapa pentingnya desain. Dengan bukti seperti Asian Games, saya jadi lebih mudah untuk menceritakan apa itu ekonomi kreatif. Jadi dari opening sampai closing, itu adalah ekonomi kreatif. Musiknya, tariannya, semuanya, itu berdasarkan dari tradisi kami.

Tapi, semua itu dikemas dengan gaya dan kreatif. Tidak murah memang, tapi itu berhasil dikemas dan ditampilkan dengan presisi dan segalanya yang bagus.  That's economy creative.
Setelah kesadaran muncul?

Positif sejauh ini. Terlihat dari sumbangan ekonomi kreatif yang baru Rp700 triliun sampai 2015 lalu, sekarang meningkat. Kata BPPT yang sudah berusaha mengeksplorasi angka-angka dari BPS, Sumbangan ekonomi kreatif sudah mencapai Rp1.105 triliun di 2018.

Itu menurut saya capaian yang kami harapkan dan sudah luar biasa karena potensinya besar. Kalau ada kenaikan terus menerus seperti itu, misalnya Rp100 triliun per tahun, itu cukup bagus. Apalagi kalau perekonomian dunia tidak turun.

Kita tahu pertumbuhan Indonesia ini masih termasuk yang paling baik di dunia, setelah China dan India. Negara lain, Singapura saja sudah nol persen pertumbuhannya. Dia langsung announced tidak ada pertumbuhan. Nah kita masih 5 persen, bahkan bisa jauh lagi. Dengan itu, sumbangan ekonomi kreatif seharusnya cukup meningkat.

Ada proyeksi seberapa besar potensi peningkatan sumbangan ekonomi kreatif kita ke depan akan seperti apa ke depan?
 
Kita pakai benchmark dunia saja, Amerika Serikat. Dia adalah negara yang kontribusi ekonomi kreatifnya kepada ekonomi cukup tinggi. Topangannya hampir 12 persen dari PDB.

Kedua, Korea yang sekitar 9 persen. Nah, kita nomor tiga di dunia, sekitar 7 persenan. Kita lebih tinggi dari Rusia, Inggris, Australia.

Dengan meningkatnya PDB, kan ekonomi kita juga meningkat. Kalau angka persentase kita bisa lebih tinggi, berarti bukan saja kita mengikuti perkembangan PDB, tapi melebihi PDB. Itu yang kami harapkan.


Tapi masih adakah tantangan yang perlu diselesaikan untuk  bisa mendapatkan sumbangan yang lebih tinggi dari ekonomi kreatif?

Sekarang ekosistem sudah terbentuk. Itu yang dibutuhkan dari berbagai sub sektor ekonomi yang sebenarnya sudah ada di Indonesia. Sudah ada kuliner, pangan, fashion, sandang, kriya, kerajinan tangan, craft, film, musik, dan lainnya.

Tapi, masih ada tantangan. Pemerintah dan kementerian/lembaga perlu untuk bisa terus bisa berkolaborasi. Pasalnya, bukan kami saja yang bertanggung jawab dengan ekonomi kreatif. Bukan hanya di Bekraf saja subsektor ini ada. Ada juga di Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, kemudian juga di Kementerian Dalam Negeri. Semua ada, bahkan Bank Indonesia pun mereka membina ekonomi kreatif. Di BUMN, mereka punya Rumah Ekonomi Kreatif.

Nah, bagaimana kita bisa bekerja sama untuk menyikapi kebijakan-kebijakan yang ada, menderegulasi bila menyulitkan, mengatur kalau memang dibutuhkan, itu termasuk kerja sama. Itu saja yang kami mohonkan kepada rekan-rekan di kementerian/lembaga.

Mari kita sama-sama perhatian dalam menyiapkan masa depan Indonesia harus di ekonomi kreatif karena memang digitalisasi, perkembangan ekonomi digital ini memungkinkan kita untuk berkreasi terus.

Kita tidak boleh ketinggalan. Kita buktikan untuk membantu mengembangkan unicorn, decacorn.

Beralih ke pertanyaan yang agak santai, sejak Anda menjadi kepala Bekraf seberapa sibuk Anda, apakah masih punya waktu dengan keluarga?

Masih. Saya sering kalau weekend tidak ke mana-mana, tidak ada tugas, ya itu untuk keluarga. Tapi saya akui, karena sibuk, saya belum pernah cuti dalam lima tahun ini. Akhirnya karena kesibukan itu, saya jadi sering tidak diikutsertakan dalam liburan keluarga.

Dan bagaimana sih bisa tetap senang bekerja dengan kesibukan seperti itu? Apa ada pelarian Anda ketika sedang jenuh dan penat kerja?

Ya bikin kopi. Saya tidak punya waktu untuk lebih dari itu, saya tidak punya waktu untuk olahraga.

Saya harus mulai meningkatkan lagi olahraga karena itu untuk kesehatan saya sendiri. Saya mulai terganggu kalau tidak olahraga seperti dulu. Tahun 2020 ini, kalau saya masih dipercaya, saya akan imbangi dengan olahraga yang lebih. Ya fitnes, lari, jalan. Sisanya saya ngopi saja, saya tidak minum alkohol soalnya.

Berbicara soal masih dipercaya. Jika ternyata benar Presiden Jokowi masih memberikan kepercayaan sebagai Kepala Bekraf di masa mendatang atau jabatan di pemerintahan, sekiranya apakah Anda bersedia?

Nanti kita pikir-pikir ya. Tapi saya intinya mau mengabdi. Kalau masih bisa dimanfaatkan tenaga dan pikiran saya untuk apa saja yang bisa sejalan dengan harapan orang kepada Pak Jokowi, karena harapan orang kepada Pak Jokowi itu tinggi sekali. Kalau bisa saya mau ikut menunjang, ikut support, dengan pemikiran dan pekerjaan saya, itu saya bersedia.


Bila tidak menjadi kepala Bekraf lagi, apa pesan untuk kepala Bekraf selanjutnya?

Belajarlah soal birokrasi supaya lebih lancar, tetap terbuka dengan segala masukan, mau bekerja keras. Nanti saya akan bantu. 

(agt)
HALAMAN :
1 2