Perlu Wanti-Wanti Meski Ekonomi Global Belum Masuki Resesi

CNN Indonesia | Rabu, 04/09/2019 12:57 WIB
Perekonomian dunia saat ini disebut belum memasuki fase resesi. Namun, tidak menutup kemungkinan resesi akan terjadi ke depan. Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Raden Pardede mengatakan bahwa ekonomi dunia saat ini belum memasuki fase resesi. Namun, ia membenarkan bahwa kondisi perekonomian saat ini sedang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi.

Ia mengatakan pro-kontra mengenai resesi ekonomi global memang ramai diperdebatkan oleh pakar ekonomi dan investasi. Dalam menilai hal tersebut, para ahli berpatokan pada kondisi ekonomi di Amerika Serikat (AS) lantaran ukuran ekonomi negara tersebut merupakan yang terbesar di dunia.

Para ahli pasar modal berpandangan bahwa tanda-tanda resesi di AS terlihat dari dua faktor, yakni siklus ekspansi ekonomi dan kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS.


Siklus ekspansi ekonomi AS saat ini sudah berdurasi lebih dari 10 tahun, di mana siklus ini merupakan ekspansi ekonomi AS terpanjang dalam sejarah perekonomian AS. Biasanya, ekonomi AS selalu memasuki fase pertumbuhan negatif (kontraksi) setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan,.
Sementara dari sisi kurva imbal hasil obligasi pemerintah AS, saat ini terjadi fenomena yang disebut dengan inverted yield curve. Inverted yield curve adalah kondisi di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam jangka pendek lebih tinggi dibanding surat utang bertenor panjang. Hal itu menunjukkan pesimisme pelaku pasar bahwa kondisi ekonomi masa depan tidak menjanjikan.

Hanya saja di sisi lain, data-data ekonomi AS secara umum dianggap masih solid, seperti tingkat pengangguran dan harga rumah yang terus naik. "Ini tidak menunjukkan resesi, namun tingkat kecemasan dan ketidakpastian tentu juga naik," ujarnya melalui keterangan resmi, Rabu (4/9).

Namun, selain ekonomi AS, para pakar tentu juga melihat data-data dari negara lain. Uni Eropa, China, hingga Jepang disebutnya masih mengalami perlambatan ekonomi. Kemudian, harga emas yang terus naik juga menjadi cerminan bahwa kecemasan terhadap ekonomi global juga meningkat.

Meski demikian, ekonomi dunia tetap bisa terhindar dari jebakan resesi jika AS mempertimbangkan lagi kebijakan perang dagang dan perang mata uangnya dengan China. Selain itu, kebijakan bank sentral AS The Fed terkait suku bunga acuannya juga bisa menjadi kunci mengenai arah ekonomi global ke depan.
"Resesi global belum terjadi, namun kecemasan naik. Apakah akan terjadi resesi benaran? Belum pasti. Namun, keadaan ekonomi AS akan menjadi kunci," papar Raden.

Sementara itu, ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede juga mengatakan bahwa tanda-tanda resesi ekonomi global menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh para ekonom. Topik ini menjadi menarik lantaran memastikan resesi ekonomi bukanlah perkara mudah. Menurutnya, para ahli ekonomi pun belum punya definisi yang mengikat terkait tanda pasti resesi.

Namun, seluruh pakar ekonomi sepakat bahwa suatu negara bisa dikatakan resesi jika mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal berturut-turut. Jika mengacu pada definisi tersebut, maka beberapa negara, seperti Jerman dan Singapura akan terancam resesi jika pertumbuhan ekonomi di kuartal III membukukan angka negatif.

Sekadar informasi, pertumbuhan ekonomi Singapura pada kuartal II lalu tercatat 0,1 persen secara tahunan atau terkontraksi 3,3 persen secara kuartal. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Jerman tumbuh 1,1 persen secara tahunan namun terkontraksi 0,1 persen secara kuartal.

"Memang ada perang dagang antara AS dan China, ada juga perang dagang antara Korea Selatan dan Jepang, semua berpengaruh ke negara-negara yang mengandalkan perekonomiannya dari ekspor," papar dia.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK