ANALISIS

Oversupply Ayam, Peternak Buntung dan Distributor Mujur

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Jumat, 06/09/2019 10:46 WIB
Oversupply Ayam, Peternak Buntung dan Distributor Mujur Peternak ayam mengadukan persoalan anjloknya harga ayam di depan kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (5/9). (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)..
Jakarta, CNN Indonesia -- Malang betul nasib para peternak ayam. Sudah setahun terakhir, harga ayam hidup anjlok. Agustus lalu, harganya bahkan menyentuh level terendah, yaitu Rp8.000 per kilogram (kg).

Kemarin, Kamis (5/9), jerit ratusan peternak dari Jawa Tengah dan Jawa Barat bergema di depan Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Mereka menyuarakan kepedihan harga ayam yang jauh dari Harga Pokok Produksi (HPP), yaitu Rp18 ribu per kg.

Ironis, kenyataannya, harga ayam di tingkat konsumen boleh dibilang relatif stabil. Kalau pun turun, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) di laman hargapangan.id melansir rata-rata harga daging ayam ras segar se-nasional cuma 1,65 persen ke kisaran Rp29.850 per kg.


Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Suhanto bilang penurunan harga ayam hidup dikarenakan kelebihan pasokan. Sementara, permintaannya tidak menunjukkan kenaikan. "Produksi ayam berlebih dan tidak diserap optimal," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (6/9).

Ia melanjutkan tren harga ayam di tingkat konsumen pun menurun, meskipun tak anjlok seperti harga ayam di tingkat peternak. "Tetapi, penurunan harga ayam di tingkat eceran terus berlanjut, sejalan dengan penurunan harga ayam hidup di tingkat peternak," tutur dia.

Memang, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengakui jumlah permintaan dan pasokan ayam saat ini timpang. Ia memproyeksi kebutuhan daging ayam ras broiler cuma 3,25 juta ton di sepanjang tahun atau rata-rata 270,97 ribu ton per bulan.

Sementara, produksi mencapai 3,82 juta ton atau sekitar 319,13 ribu ton per bulan. "Dari data itu, potensi surplus sebanyak 577,91 ribu ton atau 17,77 persen pada tahun ini," jelasnya.

Sayangnya, ia belum bisa memastikan alasan harga ayam terpaut jauh antara tingkat peternak dan konsumen. "Itu saya sedang minta seluruh pihak yang berkaitan untuk menelusuri kenapa ada disparitas harga yang demikian jauh," imbuh Ketut.

Khudori, Pengamat Sektor Pertanian, menyatakan anjloknya harga ayam saat ini adalah pertama kalinya di bawah HPP selama satu tahun. Menurut dia, hal itu lebih disebabkan karena pemerintah tidak tanggap menghadapi persoalan kelebihan pasokan di kalangan peternak.

Berbeda halnya jika harga meroket di tingkat konsumen, lanjut dia, pemerintah sangat reaktif. "Kalau lihat sikap pemerintah selama ini lebih berpihak ke konsumen. Ketika harga tinggi, sangat reaktif melakukan pendekatan kemana-mana," tutur Khudori.

Padahal, ia melanjutkan posisi komoditas surplus bisa memberikan dampak positif ke ekonomi. "Ini kan ayam surplus, masalahnya oversupply (pasokan berlebih). Seharusnya, bisa membawa ekonomi tinggi. Tapi, tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah," tegas dia.
[Gambas:Video CNN]
Persaingan Peternak

Lebih lanjut Khudori menjelaskan masalah oversupply ayam juga dikarenakan peternak mandiri harus bersaing dengan produsen integrator dalam memasarkan produknya. Produsen integrator, yang berkecimpung dari hulu ke hilir, disinyalir masuk juga ke pasar tradisional.

"90 persen ayam mereka (produsen integrator) masuk ke pasar tradisional. Padahal, itu kan pasarnya peternak kecil, peternak mandiri," katanya.

Karenanya, ia mendesak pemerintah memisahkan pasar antara peternak kecil dan mandiri dengan produsen integrator. Lalu, awasi dengan ketat, demi mencegah pelanggaran. "Integrator garap pasar modern, pemerintah nanti yang awasi betul," jelasnya.

Selain itu, Khudori mengusulkan agar Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) turun tangan menyelidiki disparitas harga di tingkat peternak dan konsumen. Soalnya, bukan tak mungkin ada pihak yang menerima keuntungan dari kemalangan peternak ayam.

Ekonom Indef Rusli Abdullah mengisyaratkan pihak distributor sangat diuntungkan dari kondisi ini. Menurut dia, distributor bisa membeli murah di tingkat peternak, tetapi tetap menjual tinggi di tingkat konsumen.

"Kalau di peternak harga turun tapi di pasar normal, di sini yang diuntungkan middle-man, distributor. Tapi ini memang ada masalah oversupply yang tidak selesai-selesai," tutur dia.

Pangkas Impor Bibit

Untuk merespons persoalan oversupply, ia menyarankan pemerintah untuk mengkaji kembali impor bibit indukan atau Day Old Chicken Grand Parent Stock (DOC GPS). Sebab, bukan tidak mungkin ayam hidup kembali kelebihan pasokan jika bibitnya tak dikurangi.

Diketahui, pemerintah kerap mengimpor bibit indukan setiap tahunnya. Rata-rata, jumlahnya sekitar 700 ribu ton per tahun.

"Nah, pemerintah harus lihat lagi jumlahnya berapa yang akan diimpor. Lihat lagi bagaimana permintaannya," kata Rusli mengingatkan.

Merespons hal itu, Kementan mengklaim rajin mengkaji impor bibit indukan setiap tahun dengan mempertimbangkan kondisi suplai dan permintaan di pasar. Kajian ini biasanya dilakukan oleh tim yang ditunjuk Kementan dan perguruan tinggi.

"Hitung-hitungannya mereka tanpa diintervensi oleh siapa pun," kata Ketut.

Kementan juga mengaku melibatkan asosiasi perunggasan, seperti Gopan, Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), dan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar).

Namun, dengan kondisi saat ini, apakah jumlah impor bibit indukan akan dikurangi pada tahun depan, ia belum bisa memastikan hal tersebut.

"Potensi dikurangi atau tidak saya serahkan sepenuhnya kepada ahlinya dan melibatkan asosiasi perunggasan," tandasnya. (bir)