Mayoritas atau sebanyak 23 perusahaan justru menancapkan hatinya ke Vietnam. Sementara, 10 perusahaan pindah ke Malaysia, Kamboja, dan Thailand.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE) Muhammad Faisal menyatakan Vietnam sejatinya sudah memiliki daya tarik tersendiri bagi investor global. Sebab, negara itu kerap memberikan kemudahan berbisnis bagi pelaku usaha.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, hal itu akan mempermudah perusahaan melakukan pengiriman barang. Berbeda dengan Indonesia, di mana tak semua pusat industri dekat dengan pelabuhan.
"Kalau dekat dengan pelabuhan ini kan mempermudah pengiriman, kalau begini otomatis lebih murah. Biaya logistik ini krusial bagi industri manufaktur," terang Faisal.
"Kalau ada kebijakan berubah-ubah, lalu apa yang diputuskan di pusat tidak dijalankan di daerah itu kan juga mempengaruhi kepercayaan investor. Kadang kan apa yang digariskan di pusat, beda lagi sama di daerah. Termasuk perizinan," paparnya.
Maka itu, percuma jika pemerintah terus merayu perusahaan China yang berniat merelokasi pabriknya jika tak ada kepastian investasi di Indonesia. Investor, kata Faisal, tidak hanya butuh insentif tapi juga kebijakan yang pasti.
[Gambas:Video CNN]
"Jadi ini bukan semata-mata soal perizinan ya," tegas dia.
Sebelumnya, Jokowi menyatakan salah satu penyebab investor enggan masuk ke Indonesia karena perizinan yang masih berbelit-belit. Ia pun menyesalkan hal itu lantaran investasi bisa jadi pendorong ekonomi dan vitamin di tengah ancaman resesi global beberapa waktu terakhir.
Sebagai informasi, pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia terpantau melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri hanya naik 3,54 persen pada kuartal II 2019, lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3,88 persen. (aud/lav)