Pertumbuhan Ekonomi Jepang Kuartal II Melesu Jadi 1,3 Persen

CNN Indonesia | Senin, 09/09/2019 16:04 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Jepang Kuartal II Melesu Jadi 1,3 Persen Ilustrasi Jepang. (Istockphoto/ Mlenny)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jepang mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 1,3 persen secara tahunan pada kuartal II 2019. Angka ini lebih kecil dibanding estimasi yang dilakukan pemerintah Jepang sebelumnya yakni 1,8 persen.

Dikutip dari Reuters, angka pertumbuhan ekonomi kuartal II ini merupakan revisi yang dilakukan oleh kantor kabinet Jepang yang dirilis Senin (9/9) waktu setempat. Angka ini juga sejalan dengan estimasi analis dan ekonom yang mengatakan bahwa ekonomi Jepang pada kuartal II seharusnya sebesar 1,3 persen.

Selain pertumbuhan secara tahunan, pemerintah Jepang juga merevisi angka pertumbuhan secara kuartalan menjadi 0,3 persen dari sebelumnya 0,4 persen.


Adapun, dua indikator pertumbuhan yang direvisi adalah angka belanja modal dan ekspor netto. Menurut laporan tersebut, belanja modal ternyata hanya tumbuh 0,2 persen secara kuartalan atau lebih rendah dari estimasi sebelumnya yakni 1,5 persen.
Sementara itu, ekspor netto ternyata berkurang 0,3 persen poin dibanding estimasi sebelumnya. Ini dianggap sebagai indikasi bahwa ekonomi Jepang terhantam parah dari lesunya ekonomi global.

Meski demikian, pemerintah Jepang tidak merevisi pertumbuhan konsumsi, sehingga angkanya masih tetap sebesar 0,6 persen.

Ekonom Senior dari Oxford Economics Stefan Angrick mengatakan sektor manufaktur Jepang memangkas belanja modalnya pada kuartal lalu sebagai imbas dari memanasnya tensi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Sementara itu, investasi yang dilakukan perusahaan non-manufaktur, utamanya berkaitan dengan piranti lunak, memang bisa mempertahankan pertumbuhan investasi Jepang. Namun, itu tidak cukup untuk benar-benar mengeluarkan Jepang dari kontraksi belanja modal," jelas Angrick.
Kemudian di sisi lain, Kepala Ekonom Totan Research Izuru Kato mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal III setidaknya masih bisa didukung oleh perilaku masyarakat Jepang yang akan menimbun barang-barang konsumsi sebelum pemerintah menaikkan pajak penjualan 10 persen pada bulan depan.

Namun, kondisi lebih buruk diramal akan terjadi pada periode setelahnya. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Jepang bisa saja membukukan angka negatif pada kuartal IV tahun ini.

"Kecemasan terhadap pertumbuhan ekonomi yang negatif seharusnya membuat Bank of Japan mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga acuannya ke angka negatif," tutur dia.

Di tengah tekanan tersebut, Gubenur Bank of Japan Haruhiko Kuroda mengatakan telah menutup pintu bagi pemangkasan suku bunga acuan hingga ke teritori negatif.

Namun, spekulasi bermunculan bahwa Bank of Japan akan melonggarkan kebijakan moneternya paling cepat pada bulan ini untuk mencegah pelemahan nilai tukar Yen. Ini sekaligus sebagai langkah antisipasi jika nantinya bank sentral AS The Fed dan Bank Sentral Eropa juga melonggarkan kebijakan moneternya.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)