Dikutip dari Reuters, angka pertumbuhan ekonomi kuartal II ini merupakan revisi yang dilakukan oleh kantor kabinet Jepang yang dirilis Senin (9/9) waktu setempat. Angka ini juga sejalan dengan estimasi analis dan ekonom yang mengatakan bahwa ekonomi Jepang pada kuartal II seharusnya sebesar 1,3 persen.
Selain pertumbuhan secara tahunan, pemerintah Jepang juga merevisi angka pertumbuhan secara kuartalan menjadi 0,3 persen dari sebelumnya 0,4 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, pemerintah Jepang tidak merevisi pertumbuhan konsumsi, sehingga angkanya masih tetap sebesar 0,6 persen.
"Sementara itu, investasi yang dilakukan perusahaan non-manufaktur, utamanya berkaitan dengan piranti lunak, memang bisa mempertahankan pertumbuhan investasi Jepang. Namun, itu tidak cukup untuk benar-benar mengeluarkan Jepang dari kontraksi belanja modal," jelas Angrick.
Namun, kondisi lebih buruk diramal akan terjadi pada periode setelahnya. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Jepang bisa saja membukukan angka negatif pada kuartal IV tahun ini.
"Kecemasan terhadap pertumbuhan ekonomi yang negatif seharusnya membuat Bank of Japan mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga acuannya ke angka negatif," tutur dia.
Di tengah tekanan tersebut, Gubenur Bank of Japan Haruhiko Kuroda mengatakan telah menutup pintu bagi pemangkasan suku bunga acuan hingga ke teritori negatif.
Namun, spekulasi bermunculan bahwa Bank of Japan akan melonggarkan kebijakan moneternya paling cepat pada bulan ini untuk mencegah pelemahan nilai tukar Yen. Ini sekaligus sebagai langkah antisipasi jika nantinya bank sentral AS The Fed dan Bank Sentral Eropa juga melonggarkan kebijakan moneternya.
[Gambas:Video CNN] (glh/lav)