Australia Berpotensi 'Parkir' Dana Pensiun Rp2.338 T ke Luar

CNN Indonesia | Selasa, 10/09/2019 11:47 WIB
Australia Berpotensi 'Parkir' Dana Pensiun Rp2.338 T ke Luar Ilustrasi aktivitas ekonomi di Australia. (REUTERS/Daniel Munoz).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dana pensiun senilai 245 miliar dolar Australia atau US$167,38 miliar (setara Rp2.338 triliun) yang dihimpun Pemerintah Australia berpotensi mengalir ke luar negeri. Hal itu dikarenakan minimnya pilihan portofolio investasi di Negeri Kanguru tersebut.

Kepala Pasar Modal Ekuitas Bank of America Merril Lynch (BAML) Australia Mark Warburton mengatakan berkat undang-undang yang mewajibkan pengusaha untuk berkontribusi setidaknya 9 persen dari gaji pekerja, dana pensiun Australia menjadi kumpulan aset terbesar ketiga di dunia senilai US$1,9 triliun.

Padahal, mengutip Reuters, Selasa (10/9), pasar saham Australia sendiri hanya bernilai US$1 triliun. Menurut BAML, rasio tersebut ialah yang tertinggi di antara negara-negara maju di dunia.


"Kami memiliki pasar saham terbesar ke-10 di dunia, tetapi kumpulan dana pensiun kami yang terbesar ketiga. Ada tumpukan uang yang menunggu untuk diinvestasikan," ujarnya.

Lebih lanjut ia menuturkan sebagian uang dari dana pensiun itu tetap ada di Australia, yang dibelanjakan untuk penyedia pendidikan di Navitas oleh AustralianSuper.

Namun, para manajer aset di Australia mengingatkan agar dana pensiun tersebut disebar ke proyek-proyek infrastruktur, properti, ekuitas swasta, hingga perusahaan-perusahaan terdaftar di luar negeri. Hal ini dilakukan untuk mengurangi tekanan ketidakseimbangan kas.

Bulan lalu, AustralianSuper, penghimpun dana pensiun terbesar di Australia setuju untuk berinvestasi hingga US$1 miliar ke National Investment & Infrrastructure Fund Ltd (NIIF) India.

Tidak cuma itu, AustralianSuper juga berinvestasi dalam bentuk kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan terdaftar, seperti produsen minuman Diageo dan perusahaan konsumer Reckitt Benckiser.

IFM Investors, salah satu investor infrastruktur terbesar di Australia juga mengaku tengah memperluas bisnis ekuitasnnya ke luar negeri. "Skalanya sangat besar," kata Kepala Pasar National Australia Bank (NAB) Drew Bradford.

Berdasarkan data NAB, sekitar 41 persen dari asetnya saat ini sudah diinvestasikan ke luar negeri. Bahkan, perusahaan masih akan meningkatkan investasi tersebut dalam 2 tahun ke depan.
[Gambas:Video CNN] (Reuters/bir)